Promo FBS
FBS Reliable Broker
Tanjungpinang

Tokoh Pejuang Kepri Soroti Ketimpangan Kesejahteraan Nelayan di Hari Nelayan ke-66

30
×

Tokoh Pejuang Kepri Soroti Ketimpangan Kesejahteraan Nelayan di Hari Nelayan ke-66

Sebarkan artikel ini
Datok Huzrin hood saat memberikan pemaparan dalam seminar peringatan hari nelayan, Rabu (22/04). /F: Thafan Casper

Tanjungpinang, suarakepri.com – Momentum peringatan Hari Nelayan ke-66 menjadi ruang refleksi atas kondisi riil kehidupan nelayan di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Tokoh pejuang pembentukan Provinsi Kepri, Huzrin Hood, menyoroti masih adanya ketimpangan kesejahteraan yang dialami nelayan, meski wilayah Kepri didominasi oleh lautan.

Dalam seminar bertajuk “Antara Wacana dan Kenyataan” yang diselenggarakan Himpunan Masyarakat Nelayan Indonesia Provinsi Kepri, Huzrin menyampaikan bahwa sekitar 98 persen wilayah Kepri merupakan perairan, sehingga nelayan seharusnya menjadi kelompok prioritas dalam kebijakan pembangunan daerah.

“Nelayan harus menjadi perhatian utama. Mereka adalah tulang punggung wilayah maritim seperti Kepri, tetapi realitasnya masih jauh dari kata sejahtera,” ujarnya.

Ia menilai, hingga saat ini banyak nelayan yang masih bergantung pada sistem permodalan dari “tauke” atau pengepul, yang kerap menjerat mereka dalam skema kredit berbunga tinggi. Kondisi ini ditemukan di berbagai wilayah, mulai dari Senayang, Lingga, Bintan, Karimun, Kundur, hingga Natuna dan Anambas.

Menurutnya, ketergantungan tersebut mencerminkan belum optimalnya intervensi pemerintah dalam memastikan akses permodalan yang adil dan berkelanjutan bagi nelayan.

“Anggaran pemerintah harus benar-benar menyentuh kehidupan nelayan. Jangan sampai program ada, tetapi nelayan tetap terjebak dalam sistem yang merugikan,” tegasnya.

Selain persoalan ekonomi, Huzrin juga menyoroti keterbatasan kapasitas nelayan tradisional di Kepri. Ia menjelaskan bahwa mayoritas nelayan lokal hanya memiliki peralatan sederhana dan beroperasi di perairan dekat, berbeda dengan nelayan dari daerah lain seperti Jawa dan Sulawesi yang telah menggunakan kapal besar untuk menjangkau laut lepas.

“Kondisi ini membuat daya saing nelayan kita menjadi terbatas,” tambahnya.

Sebagai solusi, ia mendorong diversifikasi sumber penghasilan bagi masyarakat pesisir. Beberapa sektor yang dinilai potensial antara lain budidaya rumput laut, pengembangan kepiting bakau, serta tambak ikan dan udang.

Ia juga mengapresiasi inisiatif pertanian yang dikembangkan oleh Mia Kunto Arief Wibowo, yang dinilai dapat menjadi alternatif penghasilan saat nelayan tidak dapat melaut akibat faktor cuaca.

Di sisi lain, Huzrin turut menyampaikan pesan moral kepada masyarakat nelayan agar tetap menjaga keseimbangan antara kehidupan ekonomi dan spiritual.

“Disiplin dalam beribadah, seperti salat lima waktu, serta mendidik anak menjadi pribadi yang saleh adalah fondasi penting dalam membangun kehidupan yang lebih baik,” pesannya.

Mengakhiri pernyataannya, ia berharap momentum Hari Nelayan tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, melainkan menjadi titik balik dalam merumuskan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada nelayan di wilayah Kepulauan Riau.

Comment

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat