Promo FBS
FBS Reliable Broker
Tanjungpinang

UMRAH Dorong Ekonomi Sirkular Pesisir, Limbah Jadi Karya, Karya Jadi Nilai

58
×

UMRAH Dorong Ekonomi Sirkular Pesisir, Limbah Jadi Karya, Karya Jadi Nilai

Sebarkan artikel ini
Semangat kolaborasi: Tim UMRAH dan Komunitas KKBS berfoto bersama seusai pelatihan inovasi ekonomi kreatif berbasis lingkungan di Kelurahan Air Raja, Kota Tanjungpinang, Rabu (29/10). /F: ist

Tanjungpinang, suarakepri.com – Di tangan kreatif masyarakat pesisir Air Raja, sampah bukan lagi sekadar limbah, tapi bisa disulap menjadi karya bernilai ekonomi. Melalui kegiatan Bimbingan Teknis Pemberdayaan Komunitas Keluarga Berdaya Sejahtera (KKBS), Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) menghadirkan gagasan segar tentang ekonomi sirkular yang ramah lingkungan.

Bimbingan Teknis Dalam Pemberdayaan Komunitas Keluarga Berdaya Sejahtera (KKBS) Dalam Pengelolaan Sampah Pesisir Menjadi Inovasi Ekonomi Kreatif Kota Tanjungpinang, “Limbah Jadi Karya, Karya Jadi Nilai: Inovasi Ramah Lingkungan Penggerak Ekonomi Sirkular”.

Kegiatan yang berlangsung pada 29 Oktober 2025 itu diinisiasi oleh tim dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMRAH di bawah koordinasi Dr. Fitri Kurnianingsih, S.Sos., M.Si., dengan dukungan penuh dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMRAH. Mengusung tema “Limbah Jadi Karya, Karya Jadi Nilai: Inovasi Ramah Lingkungan Penggerak Ekonomi Sirkular”, pelatihan ini menjadi ruang belajar bersama antara akademisi dan warga pesisir untuk menciptakan peluang ekonomi baru dari pengelolaan sampah.

Melalui pendekatan partisipatif, warga diajak mengenal cara mengolah sampah rumah tangga menjadi produk kreatif bernilai jual. Peserta antusias mengikuti berbagai sesi seperti penyuluhan pengelolaan limbah, pembuatan ecoprint dari dedaunan, hingga praktik mengubah minyak goreng bekas menjadi sabun alami.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengubah cara pandang masyarakat. Sampah tidak selalu berarti masalah. Dengan pengetahuan yang tepat, limbah bisa menjadi sumber penghasilan baru,” ujar Dr. Fitri. Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung ekonomi kreatif sekaligus pelestarian lingkungan.

Sementara itu, Ketua Komunitas KKBS, Kemistia Eva, SST., menyambut baik kolaborasi dengan UMRAH. Ia menilai pelatihan tersebut membuka wawasan baru bagi masyarakat pesisir, terutama bagi ibu rumah tangga dan remaja.

“Kami belajar banyak hal baru. Ternyata bahan yang selama ini dibuang bisa diolah jadi sesuatu yang berguna dan bernilai jual,” katanya.

Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa dari Program Studi Ilmu Administrasi Negara dan Manajemen sebagai fasilitator lapangan. Para mahasiswa turut membantu dokumentasi kegiatan, pendampingan peserta, hingga publikasi hasil pelatihan di media sosial kampus. Keterlibatan mahasiswa menjadi wujud nyata penerapan konsep Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), di mana mahasiswa berkesempatan belajar langsung dari lapangan dan berinteraksi dengan masyarakat.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Mereka aktif berdiskusi dan mencoba langsung proses pembuatan produk daur ulang. Di akhir sesi, beberapa hasil karya peserta seperti ecoprint dan sabun dari minyak bekas dipamerkan dalam mini-expo sederhana yang disaksikan oleh warga sekitar.

Tim pelaksana berencana menindaklanjuti kegiatan ini dengan pendampingan lanjutan dan penyusunan modul pembelajaran bertajuk “Eco-Entrepreneurship untuk Komunitas Pesisir.” Selain itu, UMRAH juga akan memperluas jejaring kerja sama dengan pemerintah daerah, Dinas Lingkungan Hidup, dan komunitas lokal agar hasil pelatihan ini dapat diterapkan secara berkelanjutan di wilayah pesisir Kota Tanjungpinang.

“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi menjadi langkah awal untuk mewujudkan masyarakat pesisir yang lebih sejahtera, kreatif, dan peduli lingkungan,” tutup Dr. Fitri.

Melalui kegiatan ini, UMRAH menegaskan kembali komitmennya dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam pengabdian kepada masyarakat. Semangat kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, dan komunitas menjadi bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari hal sederhana, dari limbah yang disulap menjadi karya bernilai.

Comment