
TANJUNGPINANG, SuaraKepri.com – Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri, Yatim Mustafa membantah bahwa peralatan pratikum Konversi Energi Alternatif sekolah, bantuan Dinas Pendidikan dikatakan tidak bermanfaat yang dikatakan oleh salah sekolah menengah atas (SMA) Negeri 1, di Batam dan SMA N 5 Tanjungpinang.
“Saya sudah mengecek kepada Kabid dan PPTK tentang bantuan peralatan pratikum tersebut, apakah ada bantuan peralatan yang tidak sesuai spesifikasi atau yang tidak sama. Ternyata setelah mereka cek, sudah sesuai dengan spesifikasi pengadaan barang dan jasa dari kita,” ujar Yatim ketika dijumpai di kantornya pada hari Jumat (13/2).
Masalah sebenarnya, tegas Yatim, ada pada guru bidang studi yang harus dapat memanfaatkan peralatan pratikum yang diberikan.
“Kalau bingung cara penggunaannya, kenapa tidak bertanya dengan pihak terkait atau sekolah yang juga mendapatkan bantuan alat pratikum seperti itu juga. Jangan dianggurkan di gudang sekolah,” geramnya.
Yatim juga menjadi tanda tanya besar, guru tersebut secara terang-terangan mengatakan bantuan peralatan pratikum itu tidak bermanfaat.
“Tidak ada namanya alat pratikum yang tidak bermanfaat. Guru harus care dan bisa menggunakan alat pratikum dengan kreatif, inovatif serta peka. Jangan mau kalah dengan murid sekarang yang kini memiliki kreativitas tinggi, contohnya di olimpiade saint dengan memanfaat alat pratikum seadanya,” kata Yatim.
Yatim menjelaskan bahwa pengadaan peralatan pratikum sekolah yang disalurkan oleh Dinas Pendidikan itu berdasarkan permintaan atau masukan dari sekolah-sekolah.
“Setelah itu baru kita lakukan pengadaan sesuai dengan yang dianggarkan. Apabila dilakukan pengecekan oleh pengawas atau panitia dan sesuai dengan spesifikasi, baru disalurkan ke sekolah-sekolah,” ucapnya.
Sebelum digunakan, tambah Yatim, peralatan pratikum tersebut harus didemontrasikan dan sosialisasikan terlebih dahulu cara penggunaannya. “Saya sebagai KPA telah beberapa kali mengingatkan kepada Kabid dan PPTK yang ada agar memeriksa terlebih dahulu apakah barang pratikumnya telah sesuai spec atau tidak. Penyalurannya juga harus kita awasi, harus sampai kepada seluruh sekolah-sekolah penerima bantuan. Apabila telah tidak ada masalah lagi, baru dilakukan pembayaran,” jelasnya lagi.
Sekali lagi, Yatim meminta kepada guru agar kreatif dan inovatif. Bila memang tidak sesuai bidang studinya, guru tersebut diharapkan belajar dan dapat menguasi bidang studi yang akan diajarkan kepada muridnya.
“Tugas guru itukan sebagai learning, listening, striking dan pro learning. Satu lagi, saya juga meminta penempatan guru juga harus sesuai dengan bidang studinya masing-masing dan memanfaatkan sertifikasinya yang ada,” ungkapnya.
[sk]







Comment