banner 728x250

DI DEPAN MASJID

  • Share

Bismillah. Aku mulai mengayunkan kaki melangkah menyusuri tepian jalan beraspal menuju ke Masjid untuk menunaikan Shalat Magrib.

Berjalan menyusuri sisi kiri jalan Aku melihat ke arah parit yang kering tak berair tepat di depan tembok pagar rumahku, dengan beberapa Pipa PDAM diikat menjadi satu menggunakan kawat di atasnya.

banner 336x280

Sudah beberapa hari ini memang belum turun hujan Aku khawatir kalau hujan turun ada sampah yang dapat menyumbat jalanya Air.

Di seberang jalan Aku mendengar canda dua orang anak sedang asyik jajan di sebuah warung yang dinding-dindingnya terbuat dari papan. Mereka menyapaku sambil melompat–lompat memukuli daun Pisang yang tumbuh di kiri kanan warung.

Sesekali aku melihat ke atas langit yang mulai redup memantulkan cahaya Jingganya di sela-sela awan putih yang tipis. Aku langkahkan kakiku dengan santai tak terburu–buru. Kedua tanganku Aku letakkan di belakang pinggang seperti orang yang sedang menggendong tuyul di film–film Horror.

Kedua Anak tadi tiba lebih dulu di depan Masjid. Mereka adalah Miky dan Salman, lalu disusul oleh Omar tidak lama kemudian. Omar adalah adiknya Salman yang bertubuh gempal bahkan lebih gempal dari tubuh Miky.

Tetapi Miky sedikit lebih tinggi dari Omar. Salman tidak bertubuh gempal seperti mereka, Salman tubuhnya kurus dan tinggi bahkan sangat tinggi untuk ukuran anak usia sepuluh tahun.

Aku tidak langsung masuk ke dalam Masjid Aku berdiri di antara pagar-pagar bambu yang ditumbuhi tanaman sirih di seberang jalan Masjid sambil memperhatikan mereka yang sedang bermain dianak-anak tangga pintu Masjid yang bersih dan mengkilap karena dilapisi keramik berwarna Hijau. sambil melirik jam ditangan kiriku, masih lima belas menit lagi fikirku masuk waktu Shalat Magrib sambil memperhatikan mereka bermain, mereka mencoba melakukan Trik Bottle Flip secara bergantian bersenda gurau dan tertawa terbahak-bahak. Khasnya anak sepuluh tahun seperti mereka, kecuali Omar yang baru berusia Enam tahun.

Sesekali mereka di tegur oleh Jamaah yang hendak masuk ke dalam Masjid karena mereka menghalangi jalan masuk. Dari jauh Aku melihat Pak Rasimin mengenakan pakaian serba Putih, dengan langkah kaki yang sangat cepat sambil mengucapkan salam kepada setiap orang yang berselisih jalan dengannya, sorot matanya Pak Rasimin sangat tajam seperti biasanya.

Setibanya di depan pintu Masjid tanpa basa–basi Pak Rasimin langsung memarahi mereka yang asyik bermain.

“Kalian mau shalat atau main?” seru Pak Rasimin “Kalau mau main lebih baik kalian pulang saja”

Mereka terdiam. Sepertinya mereka takut menjawab. Anak seumuran mereka tidak akan menjawab teguran seperti itu, tetapi bersungut-sungut dan mengomel dalam hati.

Rupanya Pak Rasimin sudah memperhatikan mereka sedari tadi. Spontan saja Miki, Salman, dan Omar terdiam karena takut sambil berbisik-bisik saling menyalahkan satu sama yang lain.

“Itulah, dah aku bilang jangan main disini” Miky menyalahkan Salman dan Omar.

“Bukan aku ya, kalian lah tuh” Omar membela diri. Karena merasa dia yang paling akhir datang. Salman membela Omar yang kelihatan sedih.

“Sudahlah, pak Rasimin memang kayak gitu. Kemarin aja aku kena tendang karena maen dalam masjid lepas sholat isya. “Jahat betullah, maen pun tak boleh.

“Maen di Masjid tak boleh, Jadi apa kami harus maen di Gereja?” Miky masih jengkel dengan pak Rasimin.

Setelah Pak Rasimin berlalu masuk Ke dalam Masjid Aku pun langsung menggiring mereka bertiga untuk masuk kemesjid. Terlintas dibenak Ku kata-kata Indah yang diucapan Sultan Muhammad Al Fatih, sang penakluk Konstantin Novel.

“Jika suatu saat kelak kamu tidak lagi mendengar bunyi bising dan gelak tawa anak–anak riang di saf–saf shalat di Masjid–masjid, maka sesungguhnya takutlah kalian akan kejatuhan generasi muda kalian dimasa itu”.

Azan Magrib pun berkumandang kami bersiap untuk Shalat berjamaah di Masjid As Syuhada.
“ Yuk Wudu” kataku pada mereka. SEKIAN

Penulis : Alel Berto

  • Share