Promo FBS
FBS Reliable Broker
Opini

Harga Cabai Melonjak, Masyarakat Teriak dan Apa Solusinya

2123
×

Harga Cabai Melonjak, Masyarakat Teriak dan Apa Solusinya

Sebarkan artikel ini
Pedagang cabe merah di salah satu pasar.

Oleh:
Maureen Azizta, Adelia Januarti, Suci Nur Insani, Raja Andreas Monang Pardede
(Mahasiswa Mata Kuliah Sistem Politik Indonesia Program Studi Ilmu Pemerintahan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji)

Naik dan turun harga bahan pokok di Tanjungpinang bukanlah hal yang baru. Melonjaknya harga cabai terbilang sering terjadi akibat beberapa faktor, seperti perubahan iklim, tingginya permintaan cabai di pasaran dan sebagainya. Harga cabai yang melonjak tinggi berpengaruh cukup besar terhadap menurunnya daya beli masyarakat. Tidak jarang kios pedagang yang biasanya ramai dikerumuni oleh pembeli kini sepi karena masyarakat enggan membayar lebih akibat harga cabai yang tidak wajar.

Ditambah lagi, Tanjungpinang bukanlah daerah penghasil cabai yang dapat membuat harganya melambung tinggi diwaktu tertentu. Kota dengan julukan Gurindam Dua Belas ini lebih dikenal sebagai kota penghasil komoditas sektor laut, pariwisata dan tambang meskipun belum menjadi sumber pendapatan yang utama.

Melonjaknya harga cabai menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Kenaikan harga cabai dapat memberikan keuntungan bagi para distributor yang berupaya untuk memenuhi kebutuhan cabai di pasaran. Namun, hal tersebut tidak selalu memberikan keuntungan, terkadang dapat membuat pedagang rugi apabila cabai yang dijual tidak laku dan lama-kelamaan membuat kualitas cabai menurun karena busuk tidak terjual.

Padahal, cabai merupakan salah satu rempah pedas yang digemari selain jahe dan merica. Di Indonesia sendiri, berbagai jenis makanan yang biasa dikonsumsi kebanyakan bercita rasa pedas yang berasal dari cabai yang membuat masyarakat selalu ingin mengonsumsi makanan pedas yang berasal dari cabai namun dengan harga yang murah.
Jenis cabai yang sering mengalami kenaikan secara signifikan adalah cabai merah, cabai rawit dan jenis cabai lainnya. Dikutip dari website Pemerintah Kota Tanjungpinang Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Jum`at (17/5/24), terpantau harga cabai di Pasar Mini Bestari dan Pelaku usaha lainnya, harga cabai merah terendah Rp 58.000 per kg dan harga tertinggi mencapai Rp 64.000 per kg sedangkan di Pasar Bintan Center harga cabai rawit jawa terendah Rp 56.000 per kg dan harga tertinggi mencapai Rp 65.000 per kg. Data tersebut menunjukkan adanya kenaikan harga cabai merah dan cabai rawit jawa mulai dari Rp 6.000 – Rp 9.000 per kg.

Polemik akibat kenaikan harga cabai terlihat saat adanya tuntutan masyarakat kepada pemerintah untuk segera mengambil langkah-langkah efektif dalam mengendalikan harga cabai di pasaran agar tetap terjangkau.

Naik dan turunnya harga cabai mendorong pemerintah untuk bertindak dan merumuskan kebijakan, seperti anjuran memanfaatkan lahan kosong untuk menanam cabai dan masyarakat dapat menanam cabai di lahan sempit dengan menggunakan polybag. Dilansir dari hariankepri.com, Rabu (8/5/2024), Pj Wali Kota Tanjungpinang sejak awal 2024 telah menginstruksikan kepada pegawai pemerintah agar memulai gerakan menanam cabai di lingkungan kantornya masing-masing dengan menggunakan polybag.

Sejalan dengan arahan tersebut, maka tidak ada alasan untuk tidak memulai menanam cabai meskipun dengan lahan yang tidak luas.

Adapun upaya dari Pemerintah Kota Tanjungpinang dalam merespon kenaikan harga cabai yang tidak stabil yaitu Pemerintah Kota Tanjungpinang melalui Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan dan Dinas Perdagangan dan Perindustrian gencar menggelar Gerakan Pangan Murah dan Operasi Pasar Murah yang bertujuan untuk menyediakan cabai di pasaran dengan harga yang lebih terjangkau meskipun kegiatan tersebut tidak berlangsung selamanya.

Selain itu, pemerintah juga menganjurkan ASN untuk menanam cabai. Dikutip dari laman kepri.antaranews.com, Jum`at (24/5/2024), Pemprov Kepri telah menyediakan bibit cabai merah dan hijau sebanyak 70.000 bibit guna program gerakan aparatur sipil negara untuk menanam cabai. Sejalan dengan instruksi Mendagri, kegiatan tersebut dilaksanakan sejak awal Juni 2024 dengan harapan dapat mengurangi angka inflasi dan memperkokoh pangan lokal.
Tak hanya itu, upaya menghalau inflasi dengan subsidi bibit cabai oleh Bank Indonesia juga dapat membantu menekan inflasi pangan. Dilansir dari kepri.antaranews.com, Jum`at (26/8/2022), Bank Indonesia telah memberikan bantuan berupa 2.000 bibit cabai beserta pupuk kepada Pemerintah Kota Tanjungpinang sebagai upaya mengendalikan inflasi. Selain bantuan bibit cabai dan subsidi pupuk, pelaksanaan pelatihan dan urban farming pun juga dilakukan di kabupaten atau kota di Kepulauan Riau yang berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan melibatkan kelompok wanita tani serta Tim Penggerak PKK.

Ketidakstabilan harga cabai sangatlah merugikan pihak-pihak tertentu. Harga cabai yang stabil merupakan keinginan masyarakat dalam menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga.

Namun, keuntungan pedagang dari hasil penjualan cabai tidak boleh diabaikan. Kita berharap agar pedagang cabai tetap memperoleh keuntungan dari hasil penjualan cabai, baik dalam kondisi harga naik maupun turun sehingga dapat menjaga kelangsungan usaha mereka dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian lokal. Terjalinnya kerjasama antara pemerintah, pedagang, dan masyarakat diharapkan dapat menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi semua pihak dalam menjaga stabilitas harga cabai dan kesejahteraan bersama.

 

Comment

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat