banner 728x250

Potensi Perikanan Tangkap Rajungan di Daerah Kepulauan Riau

  • Share

Aknes Safitri

Mahasiswa Universitas Maritim Raja Ali Haji

Kepulauan riau adalah salah satu provinsi di indonesia yang memiliki pulau – pulau dan wilayah laut yang luas diantaranya : Pulau Bintan, Pulau Natuna, Pulau Batam, Pulau Anambas, Pulau Karimun, Pulau Lingga, dan Pulau Singkep. Dari jumlah pulau sebanyak itu hanya menutupi 5% dari luas wilayah keseluruhannya. Dimana 95% lagi luas wilayah Kepulauan Riau merupakan lautan.

banner 336x280

Rajungan merupakan salah satu komoditas perikanan dengan nilai jual cukup tinggi. Komoditas ini sudah diekspor sejak tahun 1990-an dan terus menerus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dari Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (2011) mencatat setiap tahunnya nilai ekspor kepiting dan rajungan mengalami peningkatan. Pada tahun 2007 menempati urutan ketiga setelah udang dan tuna. Sedangkan untuk tahun 2011 nilai ekspor kepiting dan rajungan mengalami kenaikan 10-20%. Rajungan yang digunakan untuk kepentingan ekspor sampai saat ini masih mengandalkan hasil tangkapan dari laut. Nilai ekonomis rajungan yang tinggi berbanding lurus dengan upaya penangkapan yang semakin meningkat, sehingga dikhawatirkan dapat berdampak pada dinamika populasi dan struktur ukuran rajungan di alam. Tingkat pemanfaatan rajungan yang tinggi akan berdampak pada status stok di perairan secara temporal ke depan, terutama jika dilakukan terhadap rajungan muda karena akan menghambat laju penambahan stok baru dan pertumbuhan biomassa.

Potensi beberapa kelompok species seperti rajungan menjadi komoditi yang paling diminati oleh masyarakat dan pelaku usaha perikanan. Dalam upaya mencapai pemanfaatan secara optimal dan berkelanjutan dilakukan pengelolaan sumberdaya.

Potensi kelautan dan perikanan di Kepulauan Riau merupakan salah satu Provinsi yang cukup baik dalam sektor perikanan di Indonesia, karena hampir seluruhnya adalah lautan. Potensi perikanan yang dimiliki provinsi riau terdiri dari perikanan tangkap, perikanan budidaya, pengelolaan produk perikanan, industri bioteknologi kelautan, dan indusrti sumberdaya laut. Salah satunya Kecamatan Tanjungpinang kota merupakan salah satu kecamatan diwilayah kota Tanjungpinang yang memiliki potensi wilayah laut yang cukup luas, sehingga menyebabkan sektor perikanan sangat berpotensi untuk menjadi andalan yang dapat mengangkat perekonomian kota Tanjungpinang. Indikasi potensi perkembangan sektor ini terlihat pada sebagian masyarakat setempat yang tinggal diwilayah pesisir dan sebagaian mata pencariannya adalah nelayan. Hal ini, dapat menambah pendapatan masyarakat setempat, dari penangkapan rajungan dan melihat apakah nelayan penangkapan rajungan itu dimanfaatkan secara optimal atau belum optimal?

Dalam melakukan aktivitas penangkapan, nelayan menggunkan perahu robin yang terbuat dari peber dengan ukuran panjang 6 m, lebar 1.5 m dan kedalaman 1 m. Perahu ini menggunakan mesin robin. serta Alat untuk menangkap rajungan yaitu rata-rata bubu lipat. Bubu lipat merupakan alat tangkap pasif dan berfungsi sebagai perangkap. Bubu lipat ini menggunakan kerangka kawat baja dan jaring sebagai penutup. Dari hasil wawancara beberapa nelayan bahwa kegiatan penagkapan rajungan dilakukan pada pagi dan sore hari. Kegiatan penangkapan diawali dengan mengisi umpan dalam bubu. Umpan yang digunakan adalah ikan yang memiliki aroma yang menarik bagi rajungan untuk masuk ke dalam perangkap. Bubu dipasang di daerah pesisir wilayah yang terletak tidak jauh dari wilayah tempt tinggal nelayan dengan kedalaman perairan sekitar 2 sampai 7 meter. Untuk mencapai lokasi penangkapan, membutuhkan waktu 10 sampai 20 menit. Dalam satu kali aktivitas (trip) penangkapan, nelayan membawa bubu sebanyak 50-100 unit bubu. Bubu diikatkan pada tali sepanjang 1 kilometer dengan jarak antara bubu 10 meter. Bubu dipasang selama kurang lebih 12 jam. Nelayan mengambil hasil tangkapan pada pagi hari dan menjualnya ke penampung rajungan.

Lalu penampung rajugan menjual ke sebuah PT Selanjutnya PT rajungan diolah dengan cara merebus, dilanjutkan dengan  mengupas cangkang dan memisahkan dagingnya. Daging yang dihasilkan kemudian dijual melalui pengeskpor. Terjadinya penyebab menurunnya produksi rajungan ini adalah banyak nelayan dan penangkapan yang tak sesuai dengan ukuran yang digunakan nelayan, sedangkan daerah penangkapan masih tetap sama. Untuk itu nelayan harus melakukan penangkapan ke daerah yang lebih jauh. Upaya memperluas daerah penangkapan ini harus dilakukan dengan mengganti armada penangkapan menjadi lebih besar agar mampu menjangkau daerah penangkapan yang lebih jauh. Hal ini tentu membutuhkan biaya yang  besar. Problema inilah yang dihadapi nelayan di tanjungpinang kota dan perlu mendapat perhatian yang besar.

Sementara itu, potensi rajungan di wilayah ini masih bisa ditingkatkan jika daerah penangkapan diperluas sampai kedalaman 20 sampai 30 meter. Karena berdasarkan siklus hidup rajungan, daerah yang lebih jauh dari pantai merupakan habitat bagi rajungan dewasa. Rajungan dewasa memijah di perairan dengan kadar garam tinggi. Selanjutnya telur menetas mejadi larva dan bergerak menuju daerah pantai atau estuari untuk melanjutkan siklus kehidupannya sampai remaja. Selanjutnya rajungan muda akan bergerak menuju perairan yang lebih dalam sampai menjadi dewasa dan melakukan pemijahan untuk siklus kehidupan berikutnya.

Untuk itu diperlukan adanya upaya bantuan dana yang berupa pinjaman dari bank atau sumber pendanaan lain yang bisa digunakan oleh nelayan. Untuk mengakses pinjaman seperti ini nelayan membutuhkan bimbingan teknis dari instansi ataupun direktorat jenderal yang terkait seperti dinas kelautan perikanan yang ada di daerah maupun direktorat jendral perikanan tangkap yang ada di kementerian kelautan dan perikanan.

Dengan demikian diharapkan nelayan dapat dengan mudah memperoleh bantuan dana untuk mengembangkan usaha penangkapan dan meningkatkan hasil tangkapan. Hal ini sangat penting untuk mendapat perhatian karena alat tangkap bubu merupakan alat tangkap yang ramah lingkungan. Dengan menggunakan alat tangkap ini, penangkapan rajungan tetap dapat dilakukan secara berkelanjutan tanpa merusak lingkungan. Hal inilah yang menjadi harapan dan dambaan seluruh insan perikanan laut Indonesia.

  • Share