Sembangin LAM Bintan, Mau Dibawa Kemana Seni dan Budaya Daerah Melayu

  • Share

Penulis : Thafan Chasper

Redaktur/Perwakilan Bintan, Pelaku Seni

banner 336x280

Bintan, suarakepri.com – Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) merupakan salah satu daerah yang memiliki berbagai macam warisan seni dan budaya yang sudah cukup terkenal di Indonesia maupun diluar negeri. Namun, kurangnya perhatian dan dukungan masyarakat serta pemerintah pada saat ini membuat seni dan budaya melayu terancam hilang dikarenakan kurangnya minat para generasi penerus bangsa. Sabtu (01/01)

Tinjauan Umum Seni Budaya Melayu Berdasarkan Aspek Sejarah

Sedikit bercerita tentang seni dan budaya melayu. Berdasarkan informasi penelitian dari Lim Lee Yuan, The Malay House, yang diunggal oleh M Syahendri tahun 2001 menceritakan. Bahwasanya sejarah kebudayaan Melayu Riau dibagi atas dua bagian, yaitu Melayu Riau Daratan dan Melayu Riau Kepulauan. Kedua wilayah budaya ini memiliki corak budaya masing-masing, walaupun pada intinya memiliki pola budaya yang sama. Namun demikian, kebudayaan Melayu tetap bercorak akomodatif terhadap unsur-unsur kebudayaan yang datang dari luar dan dapat hdup berdampingan dalam keanekaragaman identitas sosial dan budaya.

Dalam penelitiannya, Lee Yuan menyimpulkan beberapa hal yang berkaitan dengan Kesenian dan Kebudayaan Melayu.

  1. Melayu bukanlah suatu suku melainkan budaya.
  2. Kebudayaan Melayu direkat oleh bahasa Melayu dan agama Islam.
  3. Kebudayaan Melayu Riau dibagi atas dua bagian yaitu Melayu Riau daratan dan Melayu Riau kepulauan.
  4. Bentuk seni yang ada di Riau daratan dan kepulauan secara garis besar sama seperti seni tari, seni rupa, seni musik, seni sastra, teater ditambah dengan upacara adat dan permainan-permainan. Adanya perbedaan pengaruh kehidupan sosial dalam menghadapi lingkungan.
  5. Rumah tradisional Melayu berbentuk panggung dengan atap belah bubung.
  6. Tipologi bangunan persegi panjang.
  7. Massa bangunan berbentuk tunggal dengan pengembangan yang bervariasi.
  8. Ruangan dirumah Melayu bersifat multi fungsi, kegunaan sesuai dengan waktu kegiatan.
  9. Struktur bangunan sebagian besar dan kayu, tiang-tiang dan balok-balok berbentuk persegi atau bulat.
  10. Diharapkan dengan adanya fasilitas seni budaya melayu terpadu ini dapat menampung segala bentuk seni budaya melayu baik itu tradisional maupun modern melalui kegiatan pertunjukan, pameran, pengembangan seni ditambah unsur komersial.

Minimnya Fasilitas Sarana dan Prasarana, Seni dan Budaya Melayu Kehilangan Eksistensi Dimasa Pandemi

Seperti yang telah disampaikan oleh Lee Yuan dalam penelitian sebelumnya. Seni budaya melayu memang sudah sepantasnya dan seharusnya mendapatkan dukungan fasilitas sarana dan prasarana yang memadai untuk meningkatkan eksistensi ditengah masyarakat. Namun, keinginan tersebut tidak dapat diwujudkan sepenuhnya oleh pemerintah daerah Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau.

Hal ini disampaikan langsung oleh salah seorang mantan Dewan Kesenian Bintan, Datok Musaffa Abbas yang juga saat ini menjabat sebagai ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Bintan melalui podcast channel youtube Thafan Casper. Dalam kesempatannya. Ia menjelaskan saat ini eksistensi seni dan budaya melayu daerah Kepri khususnya Bintan memang sudah cukup dikenal. Namun, belakangan ini seni dan budaya melayu kehilangan eksistensinya dikarenakan beberapa hal.

Sehingga ia mengibaratkan saat ini seni budaya melayu daerah Bintan seperti mendayung diatas batu, dimana maksudnya adalah kesenian dan kebudayaan melayu hanya diam ditempat dan kehilangan eksistensinya yang disebabkan beberapa hal. Sehingga ia mengakui memang belum banyak hal yang dapat dilakukan dan diperbuat selama masa jabatannya.

“Sebelum menjadi ketua LAM saat ini. Saya merajui Dewan Kesenian Bintan lebih kurang sudah lima tahun lamanya, memang belum banyak yang dapat dilakukan pada waktu itu. Sebenarnya pada hari ini, jika mengacu pada AD/ART. Masa jabatan saya sudah berakhir,” ujar Datok Musaffa Abbas pada saat melakukan wawancara diruangannya, sekretariat LAM Bintan, pada hari Sabtu, tanggal 18 Desember 2021.

Adapun kendala yang dirasakannya pada saat itu berkaitan dengan minimnya fasilitas yang didapatkan dari pemerintah daerah Kabupaten Bintan maupun pemerintah Provinsi Kepri, dan dua tahun belakangan ini Indonesia sedang dilanda oleh covid-19. Dengan adanya wabah tersebut, banyak kegiatan seremonial dan program kegiatan lainnya yang telah disusun dan akan dilaksanakan harus terpaksa dihentikan.

“Sampai saat ini kita belum pernah mendapatkan satu sen pun bantuan dari pemerintah daerah Bintan maupun pemerintah Provinsi Kepri. Hal ini berkaitan dengan syarat yang harus kami penuhi dan miliki. Karena untuk mendapatkan bantuan sosial (Bansos) dari pemerintah ada persyaratan khusus yang harus dipenuhi, karena tidak mudah untuk mendapatkan bansos dari pemerintah sekarang, karena pemerintah kita hari ini lebih transparan dan tertib dalam memberikan bantuan kepada organisasi dan lembaga,” ungkapnya.

Ia mengakui, alasan tidak diterimanya bantuan dari pemerintah daerah memang merupakan kekurangan dan kelemahannya pada saat menjabat sebagai ketua Dewan Kesenian Bintan. Dimana, untuk sebuah lembaga yang belum memenuhi persyaratan, tidak akan mudah mendapatkan bantuan.

Sempat Juara Tiga se-Provinsi, Musaffa Abbas Optimis Para Generasi Penerus Dapat Memajukan Kesenian Bintan.

Meskipun Datok Musaffa Abbas mengatakan pada hari ini tidak banyak yang dapat dibanggakan dari para seniman Bintan. Ternyata Dewan Kesenian Bintan pernah mengirim para senimannya untuk mengikuti kegiatan perlombaan di Kota Batam beberapa hari yang lalu, dan berhasil memperoleh juara ke tiga se-provinsi.

Para seniman tersebut dibawa langsung oleh Dewan Kesenian Bintan, dimana pada waktu mengirimkan langsung para seniman dalam peragaan kebudayaan untuk berkompetisi dengan kota lainnya diwilayah Provinsi Kepri, untuk mengikuti perlombaan memperkenalkan kostum budaya melayu dan juga dongeng cerita rakyat.

Ia juga menjelaskan. Kegiatan lainnya juga pernah dilakukan, dimana pada waktu itu masih disponsori oleh pihak-pihak swasta. Namun, semenjak covid-19 melanda pada tahun 2019 akhir. Dewan Kesenian Bintan tidak lagi melakukan kegiatan.

Dengan hilangnya eksistensi pada saat ini. Datok Musaffa Abbas berharap kedepannya untuk musda periode selanjutnya, siapapun yang terpilih untuk membahterai Dewan Kesenian Bintan, sebaiknya mempersiapkan terlebih dahulu segala macam syarat dan administrasi yang sudah menjadi ketentuan dan persyaratan pengajuan bantuan sosial.

“Kedepannya saya yakin, pasti banyak generasi muda dan para seniman yang ingin membahterai dan memajukan kesenian di Bintan, saya sangat mendukung dan memberikan sokongan. Hal ini nantinya bisa berkiprah bersama kawan-kawan yang ada di Provinsi Kepri dan Seluruh Indonesia,” pungkasnya.

Patut Diperhitungkan, Inilah Kesenian dan Budaya Melayu yang Cukup Terkenal di Indonesia dan Mancanegara

Masih kata Datok Musaffa Abbas. Sebenarnya para seniman Kepri tidak kalah hebat dengan seniman yang ada didaerah lainnya. Baik para seniman dibidang Tarik Suara, Tari-Tarian dan juga termasuk para pembaca Puisi. Semuanya termasuk seniman yang handal di Indonesia.

Ini terbukti pada setiap kegiatan Wisata Bahari, baik dalam tingkat daerah maupun nasional. Provinsi Kepri selalu saja mendapatkan prestasi yang patut dibanggakan dikancah nasional. Sehingga para seniman Kepri mendapat apresiasi dari pemerintah pusat dibidang Tari, dan dibidang Tarik Suara.

Seperti yang diketahui dalam kegiatan swasta, baik dalam perlombaan dibidang lagu daerah dan lagu pop. Seniman Kepri masih mendapatkan rangking yang cukup membanggakan. Hal ini cukup membuktikan para seniman Kepri patut diperhitungkan dikancah nasional.

Sedangkan untuk kesenian tradisional yang berkembang saat ini sudah sangat mendunia, seperti Tari Persembahan, dimana Tarian ini ditampilkan pada saat menyambut para tokoh yang datang ke daerah Kepri dan juga dipersembahkan untuk acara lainnya.

Selain itu. Kepri juga memiliki permainan daerah seperti sastra yang cukup mendunia, contohnya MaK Yong yang cukup terkenal di Indonesia dan Mancanegara. Bahkan Mak Yong sudah sampai ke Negara Eropa.

Perlu diketahui, Mak Yong adalah seni teater tradisional masyarakat Melayu yang sampai sekarang masih digemari dan sering dipertunjukkan sebagai dramatari dalam forum internasional. Di zaman dulu, pertunjukan mak yong diadakan orang desa di pematang sawah selesai panen padi.

Kesenian ini pernah dibawakan langsung oleh Dewan Kesenian Kepulauan Riau , Datok H. Huznizar Hood, S.H., M.H., M.Pd.I. bersama para seniman yang berada di Kepulauan Riau dengan membawakan seni lakon sastra Mak Yong dalam kegiatan-kegiatan kebudayaan pada waktu itu.


“Jadi, seniman maupun macam-macam kebudayaan melayu yang dibawakan langsung oleh masyarakat dan para tokoh di daerah Kepri maupun daerah lainnya sudah cukup eksistensinya selama ini. Sehingga kesenian dan budaya melayu mendapatkan panggung tersendiri untuk daerah Kepri dan daerah lain,” pungkas Datok Musaffa Abbas.

Selain Mak Yong. Kepri juga memiliki kesenian Dankong, yang pada hari ini diketahui bersama, Kepri memiliki beberapa jenis Dankong. Seperti Dankong di Kota Tanjungpinang, Dankong Moro dan lainnya.

Tunjukan Kepiawaiannya, Datok Musaffa Abbas Berpantun Secara Spontan

Masih membahas seni dan budaya melayu. Salah satu kebudayaan melayu yang sampai saat ini terkenal di Indonesia dan bahkan mancanegara yaitu pantunya. Dimana Pantun adalah salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal di Nusantara.

Disela-sela perbincangannya, terlihat dalam channel youtube Thafan Casper memperlihatkan ada seseorang yang sedang menghubungi Datok Musaffa Abbas untuk menyiapkan sebuah pantun pembukaan kegiatan.

Tidak butuh waktu lama, ia langsung memberikan sebuah pantun kepada orang yang sedang menghubunginya. Hal ini membuktikan bahwasanya jabatan Ketua LAM Bintan telah dipegang oleh orang yang tepat, dengan kemampuannya dalam membuat sebuah pantun secara spontan.

Datok Musaffa Abbas juga menceritakan bagaimana ia mampu membuat sebuah pantun secara spontan dan belum pernah diciptakan sebelumnya. Ia mengungkapkan bahwasanya, jika sering melatih dan melantunkan sebuah pantun, maka suatu hari nanti pasti akan terbiasa. “Bisa karena Biasa”.

“Membuat sebuah pantun yang penting ingat rumus pantun AB AB. Lagian alasan lainnya karena Datok memang selalu hadir untuk menyampaikan kata sambutan, makanya Datok sering berpantun, Bisa Pantun karena biasa, yang paling penting untuk memulai sebuah pantun, pikirkan dulu isinya, baru sampirannya. Karena rumus Pantun terletak dari isi dulu,” ungkapnya.

Dalam pembahasannya. Ia juga memberikan sebuah pantun. ‘Berjalan sendiri di waktu petang, Singgah sebentar ke tok Abbas. Saya datang kepulau mantang, Untuk datang berbagi beras’.

Senada Dengan Yan Gaboh, Jangan Marjinalkan Para Penggiat Seniman

Sebelumnya. Salah seorang penggiat seni dibidang musik kota Batam, Yan Gaboh sempat tampil di Taman Kota Kijang, Kijang Kota, Bintan Timur, pada hari Minggu tanggal 11 Desember 2021, dalam kegiatan amal donasi dan membawakan sebuah lagu yang bercerita tentang suara rakyat.

Lagu yang dibawakan merupakan lagu ciptaannya sendiri, dan dalam kesempatannya ia menceritakan bahwasanya ditengah masyarakat sedang terjadi stigma, sehingga harapannya kedepan agar para seniman Kepri untuk tidak dimarjinalkan, dan dapat bangkit serta memajukan Kepri dengan seni dan budayanya.

Senada dengan Yan Gaboh. Datok Musaffa Abbas menjelaskan alasan adanya stigma dimasyarakat disebabkan karena lemahnya system yang dilakukan oleh para penggiat kesenian dan pemerintah. Dimana pada saat ini, didasari oleh banyak pertimbangan. Masyarakat melihat seniman tempatan dan tradisional taraf hidupnya sangat terbatas, berbeda dengan seniman televisi dan radio, mereka lebih mapan dan jaya.

Ini menjadi masalahnya. Sehingga animo masyarakat dan para generasi muda menjadi tidak begitu tertarik, dan menyebabkan kesenian tradisional seperti Mak Yong dan Dankong peminatnya makin berkurang.

“Kalau kita nih seniman tradisional, tengok perkembangan hidupnya begitu saja, makanya ini menjadi pemicu ditengah masyarakat. Datok mendukung bahasa jangan memarjinalkan seniman, bangkitkan kepri dengan seni. Namun, Paradigma datok. seni tradisional harus dikolaborasi agar jangan menjadi seni yang mononton atau seni klasik,” pungkasnya.

Selain itu, ia juga menambahkan. Bahwasanya para seniman juga jarang melakukan dan mengupayakan bagaimana seni tradisional dapat menjadi salah satu seni yang diandalkan oleh generasi muda. Baik dalam kegiatan seminar dan rapat-rapat tertentu yang membicarakan tentang kesenian sangat jarang dibuat, makanya itu menjadi dasar kenapa kegiatan seni tradisional kurang diminati oleh para generasi muda.

LAM Bintan : Perlu Adanya Perubahan, Kesenian Tradisional Boleh Dirubah Asal dengan Ketentuan

Demi menjaga eksistensi dan menjaga kesenian tradisional. Ketua LAM Bintan menyatakan perlu adanya perubahan dan mengikuti perkembangan zaman. Agar kedepannya kesenian dan budaya melayu dapat terjaga eksistensinya dan tetap dikenal sepanjang zaman.

“Contohnya seni Mak Yong yang saat ini katanya tidak boleh dirubah. Sebenarnya yang tidak boleh dirubah itu jika berkaitan dengan agama syariat, itu yang tidak boleh dirubah dan direka karena pada dasarnya berpedoman dengan alquran dan hasdist. Kalau dulu orang menarinya dengan pakaian tertentu, hari ini bisa kita kolaborasi kesenian tersebut mengikuti pakaian hari ini. Selanjutnya juga dalam bentuk cerita. Kalau dulu banyak menggunakan bahasa lama yang sulit untuk dipahami, saat ini seharunya sudah harus disederhanakan agar masyarakat mampu menerima pesan yang terkandung dalam kesenian tersebut,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan. Jangan terlalu mengkulturkan bahasa kesenian dan mengatakan tidak boleh dirubah, jika masih berpegang teguh dengan prinsip tersebu. maka akan sulit memperkenalkan seni tradisional dizaman modern saat ini.

Seni dan budaya harus selalu berkembang mengikuti zaman, baik seni tarian dan dialog. Kesenian akan sukses jika mampu melakukan perubahan dan menyesuaikan perkembangan zaman.

Contohnya Mak Yong, yang dimana masyarakat sudah pada tahu jalan ceritanya. Seandainya Mak Yong diaransement dengan membuat cerita berdasarkan kejadian hari ini, seperti pilkada, pileg, kondisi masyaarkaat yang lagi kesusahan dan lainnya. Maka masyarakat akan tertarik dan membangkitkan semangat anemo para generasi muda.

“Kalau ceritanya itu-itu saja, masyarakat akan bosan, kecuali masyarakat yang belum menonton. Nah, untuk figure jangan dirubah, namun alur cerita dan tema boleh dirubah. Seperti hari besar Islam kita bawakan dalam bentuk kesenian mahyong,” ujarnya.

Butuh Dukungan Pemerintah dan Masyarakat, LAM Akan Mengundang Para Seniman

Kedepannya. LAM akan mencoba untuk mengajak seluruh para seniman bintan untuk membicarakan nasib kesenian dan budaya melayu. Dimana kedepannya perlu ada orang-orang yang memiliki semangat juang dan semangat membela kebudayaan local.

Harapan kedepannya. agar kesenian dan budaya melayu dapat terus didengar oleh seluruh penjuru Indonesia dan Nusantara. Supaya kesenian dan budaya melayu dapat disejajarkan dengan daerah lainnya yang sudah lebih maju.

Maka dari itu. Perlu adanya dukungan dari masyarakat, dan yang paling berpeluang dalam memajukan kesenian dan budaya melayu memang pemerintah. karena pemerintah memiliki fasilitas, sarana dan praasana yang dapat menunjang para penggiat seni dan budaya melayu di provinsi Kepri.

Tambahnya singkat. “Mari terus berkarya dan berpacu dalam melodi. Tingkatkan segala hal yang dibutuhkan untuk memajukan budaya melayu di Provinsi Kepri. Jika ingin dikenal orang banyak, maka berkaryalah dengan sebaik mungkin,” tegasnya.

  • Share