Promo FBS
FBS Reliable Broker
OpiniPendidikan

Sibuk Mengerjakan, Tapi Apa yang Dipelajari?

962
×

Sibuk Mengerjakan, Tapi Apa yang Dipelajari?

Sebarkan artikel ini

Asy Syu’ara Kurniati
Mahasiswa Pendidikan Matematika
Universitas Maritim Raja Ali Haji

Dalam hiruk-pikuk dunia Pendidikan saat ini, kita sering kali melihat peserta didik terbenam dalam tumpukan tugas, makalah, laporan, presentasi, dan ujian. Melewati malam yang sering begadang dan akhir pekan yang nyaris tidak beristirahat. Semua kegiatan tersebut tampak produktif jika dilihat dari luar. Tetapi, apakah yang kita pelajari dari semua kesibukan itu? Apakah itu bermakna untuk kehidupan?.

Peristiwa ini bukanlah hal baru pada era Revolusi Industri 5.0 dimana nilai, ranking, IPK sangat penting sehingga membuat tergesernya makna belajar. Kegiatan belajar yang seharusnya memahami, mengeksplorasi, menganalisis berubah menjadi kegiatan yang hanya sekedar menyelesaikan tugas. Akibatnya, banyak peserta didik yang tidak tahu sebenarnya apa sedang dipelajari?

Apalagi di era ini banyak sekali teknologi Artificial Intelligence yang dapat dengan mudah diakses oleh peserta didik. Alih – alih dimanfaatkan untuk mendukung proses pembelajaran, adanya teknologi ini justru membuat peserta didik menjadi malas dan sering menganggap remeh tugas – tugas yang diberikan.

Sistem budaya kejar target juga mempengaruhi kondisi ini. Bayangkan jika dalam kurun waktu seminggu peserta didik diberikan tugas membuat esai, membuat artikel, mengerjakan soal soal, serta menyusun laporan.

Dimana pengumpulan tugas itu berada diwaktu yang hampir bersamaan, belum lagi adanya kegiatan organisasi diluar pembelajaran. Tekanan seperti ini, seringkali membuat mereka lebih fokus menyelesaikan tugas secepat mungkin dari pada memahami materi. Maka muncullah kegiatan seperti hanya sekedar mengcopy-paste, menggunakan AI atau bahkan menggunakan jasa orang lain dalam mengerjakan tugas.

Yang harus dipertanyakan adalah setelah satu semester berlalu, apa yang membekas bagi peserta didik? Apakah yang diingat hanyalah kelelahannya? Atau hanya mengingat begadang semalam suntuk?
Belajar yang sejati adalah Ketika peserta didik merasa penasaran, tertantang dan tumbuh serta dapat mengaplikasikannya dalam keidupan sehari – hari, bukan hanya sekedar lega karena tugas telah selesai.

Sudah saatnya kita mengevaluasi: untuk apa kita belajar? Apakah hanya sekedar menjalani tuntutan?Apakah hanya ingin mendapatkan nilai tinggi? Perubahan bisa dilakukan secara sederhana seperti menanamkan pada diri sendiri pentingnya menekankan proses bukan semata – mata hasil. Bukan berati juga kita harus memperlambat kerja atau mengabaikan target tetapi kita juga perlu belajar mengelola waktu agar proses belajar menjadi lebih bermakna.

Pentingnya membangun kesadaran bahwa belajar bukan hanya sekedartuntutan, tetapi bekal untuk menghadapi kehidupan dimasa depan. Dengan demikian, belajar tidak lagihanya sekedar menyelesaikan tugas tetapi menjadi ruang untuk tumbuh yang bermakna.

Comment