Natuna, suarakepri.com – Masa panen bunga cengkeh merupakan waktu yang sangat di nantikan oleh petani cengkeh di kabupaten Natuna. Bagimana tidak, Petani baru bisa menikmati hasilnya setelah menunggu masa panen yang berlangsung dua tahun sekali.
Setelah dua tahun menanti, banyak harapan yang di inginkan oleh petani dari hasil cengkeh. Biasanya, saat masa panen tiba, wajah sumringah tanda bahagia tampak jelas dari raut wajah petani cengkeh.
Namun diluar dugaan, panen kali ini harga cengkeh jauh dari harapan petani. Harga cengkeh anjlok ke Rp 50 ribu merosot tajam dari dua tahun sebelumnya yang mencapai Rp 100 ribu.
Anjloknya harga cengkeh ini sangat dikeluhkan oleh petani. Seperti yang dikeluhkan Hery (46), Petani Asal Desa Kelarik Air Mali. Ia menceritakan dampak dari anjloknya harga komoditi cengkih mengakibatkan pendapatan dari penjualan cengkih merosot jauh dari tahun sebelumnya.
“Harganya turun pak, hanya Rp. 50 Ribu/Kg,” keluh Hery.
“Sungguh jauh dari harapan kami pak,” sesalnya lagi.
Dijelaskan Hery, Cengkih adalah mata pencahariannya selain mempunyai warung kelontong di daerah air Mali. Namun selama ini ia sangat bergantung pada hasil cengkeh.
“Cengkeh anjlok, maka pendapatan berkurang, hanya cukup untuk makan pak,” tutur ayah dua anak itu sambil memisahkan bunga cengkih dari tangkainya.
Dengan anjloknya harga cengkih, hal yang sangat dirasakan petani yaitu susahnya mencari pekerja atau buruh untuk memetik bunga cengkih. Karena dengan turunnya harga cengkih kering otimatis harga upah petik ikut turun.
“Sangat sulit pak, karena upah perkilonya 7 ribu, banyak yang menolak,” keluhnya.
Sehingga bunga cengkeh terlambat dipetik dan memerah di pohon, petani sangat merugi dengan keadaan ini. Apalagi tiap tahun harus mengeluarkan uang untuk membersihkan kebun.
“Kami petani hanya bisa berdoa dan berharap harga cengkeh kembali naik lagi, karena petani sangat bergantung dari cengkeh,” harapnya. (SK/M.Rozali)







Comment