Sejumlah Nelayan Menjerit Terkait Solar, KNTI Bicara Berdasarkan Penelitian

  • Share

Bintan, suarakepri.com – Akibat susahnya mencari kebutuhan akan solar, sejumlah nelayan menjerit dan terpaksa berhenti mengais rezeki di laut. Hal ini sempat disampaikan oleh sejumlah nelayan beberapa hari yang lalu.

Menanggapi permasalahan tersebut. Buyung selaku ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) wilayah Bintan, menjelaskan. Berdasarkan hasil penelitiannya dilapangan selama ini, kemungkinan para nelayan yang tidak mendapatkan BBM bersubsidi jenis solar memang terjadi.

banner 336x280

Meskipun para Nelayan sudah memegang Kartu Kendali dari pemerintah setempat, namun hal ini tidak menjamin para Nelayan akan mendapatkan BBM bersubsidi jenis Solar.

Menurutnya, Ada beberapa kendala dan permasalahan yang ia temui dilapangan. saat ini, Para Nelayan belum mendapatkan kepastian pasti terkait jadwal kedatangan subsidi BBM jenis Solar, sehingga. Ketika para Nelayan datang dan ingin membeli ke agen penyalur yang telah ditunjuk. Solar tersebutpun telah habis.

“Jadi secara logikanya, seharusnya para nelayan yang memegang kartu kendali hanya tinggal datang, karena mereka sudah memiliki kuota untuk mendapatkan Solar, dan ini bisa di cek, jika surat yang dimiliki aktif, maka agen penyalur seperti SPDN, SPBU dan sebagainya wajib memberikan minyak tersebut,” ujarnya pada hari Minggu, 19/09/2021.

Seandainya ada para Nelayan yang tidak mendapatkan Solar, kemungkinan. Mereka tidak dapat karena kuota Solar yang diberikan tidak sesuai usulan yang sudah ditentukan berdasarkan surat rekomendasi. Dan kenyataan dilapangan juga menunjukan bahwasanya sebagian dari Nelayan tidak mengambil sepenuhnya kuota Solar yang telah ditentukan.

“Contohnya begini, kuota yang diberikan, misalnya 300 liter, itu Nelayan hanya dapat mengambil sebanyak 150 liter dari agen penyalur, tegantung pemakain. Kalau dikalkulasiakan, berapalah yang digunakan Nelayan kecil kita ini, satu hari kadang paling kuat menggunakan Solar sebanyak 15 sampai 20 liter, dan ini seharusnya Nelayan sudah dapat dua kali melaut,” pungkasnya.

Ia juga menyebutkan berdasarkan hasil penelitiannya, alasan lain kenapa ada sebagian Nelayan tidak mendapatkan Solar, Ia menduga adanya beberapa kapal yang berkapasitas diatas 30 Gross Tonnage (GT) dapat kuota subsidi dengan surat rekomendasi yang dipekecil.

Misalnya, Salah satu kapal A berukuran 50 GT, pada saat pengurusan penerbitan surat, pemilik kapal melaporkan kapasitas muatan kapalnya hanya 30 GT. Sehingga disini ia mencurigai kemungkinan yang terjadi.

“Ini kami sedang dalam penelitian mencari kepastian, kenapa kami katakan seperti itu, bisa kita crosscek dilapangan bersama Dinas Kelautan dan Perikanan. Ayo dong, mari kita sama sama turun pada saat pengisian Solar, kita sama sama mengukur Kapal itu kembali. Karena, ketika kapal kapal itu menyandar dikijang, kapal-kapal kecil lainnya ada yang gak kebagian tempat,” ungkapnya.

Berdasarkan permasalahan tersebut, ia juga menyampaikan bahwasanya perlu adanya pembagian secara teknis yang jelas. Seperti pembagian jadwal harian, contohnya. Kapal yang bermuatan 1 sampai 30 GT dijadwalkan pada hari Rabu dan Jum’at, sedangkan diatas 30 GT dihari lainnya.

Sehingga, dengan adanya pengaturan jadwal, maka para Nelayan kecil dapat dengan mudah dan memastikan kapan harus membeli minyak solar tersebut.

  • Share