by

Kisah Tragis ‘Oemar Bakrie’ Gerbang Utara

Penulis : -Natuna-468 views

* Dana Pensiun Tak Dapat, Mengaku Tanda Tangan Dipalsukan

Kisah Oemar Bakrie  mungkin tidak ada habisnya di Negeri ini.

Oemar Bakrie adalah guru pegawai negeri. Kondisi ekonomi guru ini digambarkan minimalis dengan indikator menggunakan sepeda kumbang, gaji dikebiri, dan diakhir lagu dinyatakan nasibnya perlu dikasihani. Padahal kenyataannya, sekarang Oemar Bakrie di Indonesia banyak yang lolos sertifikasi.

Tetapi dengan status yang telah PNS atau sekarang dikenal dengan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan memiliki sertifikasi, belum tentu menjamin kesejahteraan guru tersebut.

Hal ini dialami oleh ‘Oemar Bakrie’ di perbatasan Gerbang Utara Negeri ini, yakni seorang guru bernama Wan Zakaria di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Meski telah mengabdikan diri mendidik putra-putri di daerah perbatasan hampir 30an tahun, tetap tidak ada penghargaan atau pertimbangan untuk kesejahteraannya di hari tua.

Menjelang dihari tuanya, Wan Zakaria harus menghadapi kenyataan pahit, dimana nasib malangnya tidak bisa dihindari.

Guru Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Bungguran Barat/Sedanau, Kabupaten Natuna tersebut harus terpaksa pensiun lebih dini, pada usia 58 tahun dan tidak mendapatkan dana pensiunan.

Lebih sadisnya lagi, Wan Zakaria yang mengajar ilmu kejuruan Bisnis, Ekonomi ini sampai mengajar hampir setahun tidak menerima gaji, alias tanpa gaji. Bahkan Wan Zakaria juga terkejut adanya dokumen yang tak pernah ia tanda tangani untuk pengajuan pensiun atau merasa dipalsukan.

“Saye tidak tahu kalau pada mase tahun 2019 sudah dipensiunkan dan surat terkait pensiunnye baru saye diterima tahun 2020. Pantasan saye saat itu tidak terima gaji lagi setiap bulan, tetapi karena tidak tahu (dipensiunkan) dan rase pengabdian yang kuat, saye terus mengajar,” ujar Wan Zakaria saat menemui redaksi Suara Kepri, didampingi Mantan Anggota DPRD Kepri, Tawarich.

Dengan logat asli orang Melayu daerah perbatasan di Natuna, Wan Zakaria kembali melanjutkan kisahnya.

Wan Zakaria saat bersama mantan anggota DPRD Kepri yang juga tokoh masyarakat Natuna.

Ia pertama kali mengajar pada tanggal  03 Januari 2005, mengajar di SMA Negeri 1 Bungguran Barat sebagai Guru Kontrak.

Selanjutnya dari Guru Tidak Tetap (GTT) dan diangkat sebagai dari tenaga pendidik K2 di SMKN 1 Bungguran Barat.

“Dari modal Pegawai K2 ini saye diangkat sebagai CPNS dan mendapat NIP CPNS Daerah dari Badan Kepegawaian Negara (BKN) pada tahun 31 Juli 2014, jabatan saye saat itu Guru SMK,” jelas Wan Zakaria.

Pada tanggal 31 Maret 2016, Pemkab Natuna melakukan pengangkatan terhadap beliau, juga sebagai guru SMK, dengan golongan IIa/pangkat pengatur muda.

“Tahun 2016 saye menyelesaikan Sarjana Strata (S1) pada Universitas Terbuka (UT) UPBJJ-UT Pontianak, Fakultas Ekonomi,” paparnya.

Wan sendiri pernah mengikuti sertifikasi guru dan dinyatakan lulus pada tanggal 30 Agustus 2012.

Nah, dikala pembinaan sekolah menengah atas, wewenangnya telah dilimpahkan ke Provinsi dan tidak lagi berada di Kabupaten/kota. Disaat itulah nasib Wan Zakaria mulai tidak berpihak.

Wan Zakaria hanya tercatat sebagai calon guru atau tenaga fungsional dan dipensiunkan tidak sesuai harapannya.

“Berdasarkan Curriculum Vitae (CV) terkait diri saye, saye seharusnya pensiunan pada tanggal 01 Agustus 2021 nanti. Kok 01 Juni 2019 saye telah dipensiunkan, tetapi yang fatal lagi, saye baru mengetahui dan menerima surat pensiun pada awal Desember 2020 lalu. Otomatis saye tidak menerima gaji selama 1 tahun lebih, alias mengajar dengan sukarela,” geramnya.

Alasan yang diberikan oleh Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) serta Dinas Pendidikan Provinsi Kepri kepada dirinya, adanya surat penolakan dari BKN Kantor Regional XII yang menyatakan dirinya hanya berstatus Calon Guru (Pangkat Penata Muda/Golongan IIIa). Yang mana dirinya hanya boleh mencapai 58 tahun, karena masa pengabdian PNS 4 tahun 10 bulan, tidak mencapai 5 tahun sesuai aturan untuk memperoleh dana pensiun.

“Yang saye kaget lagi, ada selembar surat pengajuan pensiun yang diajukan melalui Dinas Pendidikan Kepri, tanpa pengetahuannya dan tidak pernah atau bukan tanda tangan saye. Surat itu juga turut ditanda tangani Kadisdik Kepri, Muhammad Dali,” tegasnya.

Oleh karena itu, Wan Zakaria yang juga mendapatkan dukungan dari Mantan Anggota DPRD Kepri, Tawarikh akan terus memperjuangkan nasibnya.

Bahkan ia pun mendapatkan bantuan dari pengacara kondang Tanjungpinang, Saharuddin Satar beserta rekan untuk melakukan upaya hukum.





Comment

Berita Lainnya