Promo FBS
FBS Reliable Broker
Tanjungpinang

Menembus Gang Sempit, Tim Perkesmas Tanjungpinang Barat Layani Lansia Bedridden hingga ke Rumah

138
×

Menembus Gang Sempit, Tim Perkesmas Tanjungpinang Barat Layani Lansia Bedridden hingga ke Rumah

Sebarkan artikel ini
Kepala UPTD Puskesmas Tanjungpinang Barat, Dr. Harry Prima Sukarni. /F: Dokumen Pribadi.

Tanjungpinang, suarakepri.com — Pelayanan kesehatan bagi masyarakat lanjut usia (lansia) di wilayah kerja Puskesmas Tanjungpinang Barat terus dilakukan dengan pendekatan jemput bola. Melalui program Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas), petugas medis aktif mendatangi lansia yang mengalami keterbatasan fisik dan tidak lagi mampu datang ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Kepala UPTD Puskesmas Tanjungpinang Barat, Dr. Harry Prima Sukarni, mengatakan program tersebut secara aktif dijalankan untuk memastikan pasien, khususnya lansia dengan kondisi bedridden atau hanya dapat beraktivitas di tempat tidur, tetap memperoleh pelayanan kesehatan.

Menurut Harry, keberadaan kader Posyandu menjadi salah satu sumber informasi penting bagi Puskesmas dalam menemukan lansia yang membutuhkan pelayanan kesehatan di rumah.

“Alhamdulillah aktif melakukan Perkesmas di sini. Pertama kami mendapatkan data pasien yang sudah bedridden dari peran aktif kader Posyandu. Kemudian tim Perkesmas menyisir pasien berdasarkan keterangan yang didapat dari kader,” ujar Harry saat diwawancarai, Kamis (09/09).

Setelah menemukan pasien, petugas mendatangi langsung kediaman untuk melakukan pemeriksaan dasar. Pemeriksaan tersebut antara lain meliputi pengecekan tekanan darah dan kadar gula darah, sekaligus memberikan edukasi kepada pasien maupun keluarga mengenai pentingnya melakukan kontrol kesehatan secara berkala.

Harry menjelaskan, pasien yang menjadi sasaran pelayanan di rumah umumnya merupakan lansia dengan penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes melitus maupun pasien pascastroke yang sudah mengalami keterbatasan mobilitas sehingga tidak memungkinkan lagi mengikuti pelayanan di Posyandu Lansia.

“Biasanya pasien dengan diagnosis hipertensi, diabetes melitus, stroke yang memang sudah tidak bisa lagi kontrol ke Posyandu Lansia,” katanya.

Menurut Harry, pola pelayanan tersebut menjadi penting karena kondisi pasien yang tidak memungkinkan untuk bepergian tidak seharusnya menjadi penghalang untuk memperoleh pemantauan kesehatan.

Dalam pelaksanaannya, petugas Perkesmas juga harus menghadapi kondisi geografis dan lingkungan permukiman di wilayah Tanjungpinang Barat yang di sejumlah lokasi memiliki gang sempit dan padat penduduk.

Keterbatasan akses tersebut membuat kendaraan, termasuk ambulans, tidak selalu dapat menjangkau hingga ke depan rumah pasien.

Namun kondisi itu tidak serta-merta membuat petugas menghentikan pelayanan. Harry mengatakan tim tetap mendatangi pasien untuk memberikan pertolongan awal apabila kendaraan tidak memungkinkan masuk ke lokasi.

“Kalau untuk pemeriksaan biasanya kami bawa tas besar yang berisikan alat tensi, alat cek gula, masker, handscoon dan perlengkapan lainnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, apabila sebuah gang masih memungkinkan dilalui kendaraan, meskipun hanya satu mobil, tim akan berupaya masuk hingga mendekati lokasi pasien. Sementara apabila kondisi gang terlalu sempit dan ambulans tidak dapat masuk, petugas tetap mendatangi pasien untuk memberikan pertolongan pertama sebelum proses evakuasi dilakukan.

Upaya tersebut, kata Harry, bukan sekadar pemeriksaan rutin. Dalam kondisi tertentu, tim Puskesmas juga harus bergerak cepat ketika mendapatkan laporan mengenai warga yang mengalami kondisi kegawatdaruratan.

Salah satu pengalaman yang pernah ditangani terjadi setelah pihak Puskesmas menerima laporan dari ketua RT mengenai seorang warga yang mengalami gejala stroke dan tidak mampu berjalan.

Mendapatkan laporan tersebut, tim langsung mendatangi kediaman pasien. Petugas kemudian melakukan pemeriksaan tekanan darah dan tanda-tanda vital sebelum pasien dievakuasi ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

“Pernah. Ada laporan dari Pak RT ada pasien gejala stroke dan tidak bisa jalan. Kami datang langsung, kemudian cek tekanan darah dan tanda-tanda vitalnya. Setelah itu baru dievakuasi ke rumah sakit,” ungkap Harry.

Keterlibatan kader Posyandu dan perangkat lingkungan seperti RT dalam menemukan pasien menjadi bagian penting dari pola pelayanan tersebut. Informasi dari masyarakat membantu petugas mengetahui keberadaan lansia yang mengalami keterbatasan dan berisiko tidak mendapatkan pemantauan kesehatan karena tidak mampu mendatangi fasilitas pelayanan.

Bagi Puskesmas Tanjungpinang Barat, pelayanan kesehatan dengan pola kunjungan rumah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa akses pelayanan tidak hanya bergantung pada kemampuan pasien untuk datang ke Puskesmas. Dalam kondisi tertentu, petugas justru dituntut untuk mendatangi masyarakat yang membutuhkan.

Di tengah keterbatasan akses pada sejumlah kawasan permukiman, Harry memastikan timnya tetap berupaya memberikan pelayanan sesuai kondisi pasien dan kemampuan akses menuju lokasi.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya Puskesmas Tanjungpinang Barat mendekatkan pelayanan kesehatan kepada kelompok masyarakat yang paling membutuhkan, terutama lansia dengan pfenyakit kronis dan keterbatasan mobilitas.

Comment