Tanjungpinang, suarakepri.com – Gelombang bencana besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam sepekan terakhir telah meninggalkan duka mendalam. BNPB mencatat 964 korban meninggal dan ribuan warga kehilangan tempat tinggal akibat banjir dan longsor yang terjadi serentak di tiga provinsi tersebut. Situasi darurat ini tidak hanya mengguncang daerah terdampak, tetapi juga mahasiswa perantau yang keluarganya berada di pusat bencana.
Di tengah kondisi itu, Anggota Komisi I DPR RI dari Dapil Kepulauan Riau, Endipat Wijaya, mengambil langkah cepat dan konkret dengan menghadirkan layanan makan gratis selama 20 hari bagi mahasiswa ber-KTP Aceh, Sumut, dan Sumbar di Tanjungpinang dan Bintan.
Program tersebut berlangsung di Secondchoice Cafe, Jalan Sumatra, Tanjungpinang. Sejak pertama digelar, puluhan mahasiswa datang setiap hari untuk mendapatkan makanan dan minuman tanpa biaya. Banyak dari mereka mengaku belum menerima kiriman uang dari keluarga akibat akses yang terputus maupun kondisi ekonomi orang tua yang terguncang pascabencana.
Endipat menegaskan bahwa mahasiswa perantau adalah kelompok yang sering terlewat dari prioritas bantuan ketika bencana melanda.
“Mereka jauh dari keluarga, tapi ikut merasakan dampaknya. Ada yang kehilangan rumah, ada yang belum bisa berkomunikasi dengan orang tua. Dalam kondisi seperti ini, tidak ada alasan bagi kita untuk membiarkan mereka menghadapi kesulitan sendiri,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Menurut penyelenggara, langkah ini terinspirasi dari banyaknya laporan mahasiswa yang mulai kesulitan memenuhi kebutuhan makan. Sebagian bahkan harus mengurangi porsi harian agar tabungan bertahan lebih lama.
Di Secondchoice Cafe, suasana kebersamaan terlihat jelas. Mahasiswa duduk berkelompok, berbagi cerita tentang kampung halaman yang dilanda bencana, sesekali menelpon keluarga dengan perasaan cemas. Namun, kehadiran dapur solidaritas itu memberikan sedikit kelegaan di tengah masa penuh ketidakpastian.
“Jika ada yang sedang kesulitan, datang saja. Tidak perlu ragu, tidak perlu bayar. Ini tempat kalian menguatkan diri,” tulis penyelenggara dalam pengumuman di media sosial.
Program ini bukan sekadar bantuan makan, tetapi juga menjadi ruang pemulihan psikologis bagi para mahasiswa untuk berkumpul dan saling menguatkan. Endipat berharap langkah kecil ini dapat membantu mereka tetap fokus menempuh studi tanpa terbebani situasi kritis di kampung halaman.
“Semoga masyarakat di Aceh, Sumut, dan Sumbar diberikan kekuatan untuk bangkit. Kita semua punya tanggung jawab moral untuk saling menguatkan,” tambahnya.
Bantuan dari Endipat ini menambah daftar inisiatif solidaritas yang bermunculan di Kepri, mulai dari donasi sekolah, komunitas, hingga lembaga keagamaan, sebagai bentuk kepedulian terhadap bencana yang kini menjadi atensi nasional.

Comment