banner 728x250

Dengan Gotong Royong Wujudkan Merdeka Belajar Di Masa Pandemi

  • Share


Oleh : Satrio Budi


Pada bulan Desember Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dibawah kepemimpinan Nadiem Makariem muncul dengan gebrakan baru dan mencetus sebuah program Merdeka Belajar.

banner 336x280

Ide Merdeka Belajar ini konon muncul dari banyaknya keluhan dari para orang tua pada sistem pendidikan nasional yang selama ini berlaku. Salah satu contoh keluhan yang muncul adalah banyaknya siswa yang dipatok dengan nilai-nilai tertentu.

Adapun tujuannya agar para guru, siswa sebagai peserta didik serta orang tua bisa mendapatkan suasana yang bahagia. Namun belum lama program ini berjalan tepatnya diawal tahun 2020 kita dihadapi wabah berupa virus yang bernama Covid-19.

Virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan sehingga dapat menyerang siapa saja baik bayi, anak-anak, orang dewasa maupun lansia.

Dengan penyebaran yang begitu cepat pemerintah menghimbau untuk mengurangi kegiatan diluar rumah.

Hal ini membuat aktivitas sehari-hari menjadi terkendala, belajar mengajar di sekolah juga harus ditiadakan dan berubah sistem dari tatap muka menjadi sistem daring.


Kemerdekaan belajar seolah-olah kembali direnggut, kebahagian yang dicita-citakan seakan tidak dapat diwujudkan. Bagaimana tidak, dengan berlakunya belajar dari rumah membuat terbatasnya interaksi sosial antar siswa dan tidak bisanya siswa mengembangkan potensi yang dimilikinya. Bagi orang tua menjadi menambah beban baik dari materi maupun non materi. Orang tua harus dapat membagi waktu antara kerja dan mengajar sebagai pengganti guru dirumah, sehingga memicu tingkat stress dan mengalami kerepotan.

Pengeluaran keuangan juga bertambah untuk membeli kuota internet, belum lagi bagi orang tua yang terdampak akibat adanya Pemutus Hubungan Kerja (PHK) dari tempat kerjanya.


Untuk melakukan kegiatan belajar melalui daring biasanya menggunakan aplikasi grup meeting, salah satunya yang banyak digunakan adalah Zoom.

Melansir dari temuan Whistle Out untuk panggilan video Zoom membutuhkan kecepatan internet 600kbps hingga 1.8Mbps. Jika Menggunakan Zoom untuk video call dengan kualitas video HD atau 720p selama satu jam akan menghabiskan kuota 540Mb masing-masing untuk mengunggah video dan mengunduh video lawan video call, total akan menghabiskan kuota internet 1,08Gb.

Bayangkan berapa rupiah setiap harinya yang harus dikeluarkan oleh orang tua.
Pandemi belum tau sampai kapan akan berakhir, karena hingga sekarang belum juga ditemukan vaksinnya. Kalau penerapan belajar dari rumah tetap diberlakukan maka ini sungguh sangat memberatkan bagi orang tua.

Oleh karena itu perlu menumbuhkan adanya kerja sama atau gotong royong sesama orang tua. Melalui Ketua RT mendiskusikan bersama warganya untuk mengupayakan pemasangan WiFi yang bisa dinikmati secara bersama-sama.

Bila disatu RT memiliki 50 Kepala Keluarga (KK) maka diberlakukan iuaran setiap KK Rp. 30.000/bulan sehingga menghasilkan Rp. 1.500.000. Jika biaya langganan internet setiap bulannya 500.000 dengan kecepatan 50 Mbps maka ada tiga titik WiFi yang bisa dipasang. Dengan asumsi 1 titik WiFi dapat digunakan 15-17 perangkat maka ini sangat membantu bagi siswa dalam belajar dan meringankan para orang tua bila dibandingkan dengan membeli kuota tentunya.


Untuk implementasinya agar tidak disalah gunakan yang tujuan utamanya adalah untuk mempermudah anak belajar dirumah dan meringankan pengeluaran maka diperlukan pengaturan penggunaan internet setiap pengguna dengan limit kecepatan tertentu atau kuota tertentu, ini dilakukan agar menimbulkan keadilan pemakai.

Pada dasarnya setiap permasalahan dapat diselesaikan jika dihadapi secara gotong royong meski mungkin langkah seperti ini dapat dilaksanakan untuk daerah tertentu yang sudah ada dilewati jaringan internet fiber optiknya, akan tetapi ini salah satu pilihan untuk menjawab tantangan dalam pendidikan jarak jauh sehingga Merdeka Belajar yang diharapkan bisa terwujud.

banner 336x280
banner 120x600
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *