Oleh : Tika Ayu Cahyanti
Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang
Program Studi Akuntansi
Pada Desember 2019 seluruh dunia dikejutkan sebuah virus yang cukup mematikan yang pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, China yang telah menelan lebih dari 2.300 korban jiwa. Virus yang bernama Novel Coronavirus atau COVID-19 merupakan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan sehingga dapat menyerang siapa saja baik bayi, anak-anak, orang dewasa maupun lansia.
Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke wilayah lain di Cina dan ke beberapa negara, termasuk Indonesia. Dan hingga kini belum ada vaksin yang mampu menghentikan penyebarannya, sehingga berdampak buruk bagi pertumbuhan ekonomi seluruh dunia terkhususnya bagi Indonesia.
Pariwisata diperkirakan akan menjadi sektor yang paling berdampak merebaknya kasus ini. Apalagi sektor pariwisata merupakan salah satu pemasukan terbesar Negara.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies/ASITA) Budijanto Ardiansjah memperkirakan sektor wisata Indonesia menjadi yang paling terancam dengan penyebaran Virus Corona saat ini.
Apalagi, Indonesia dan China merupakan mitra di sektor pariwisata. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kunjungan wisatawan China ke Indonesia selama Januari sampai Juni 2019 mencapai 1,05 juta orang, terbanyak kedua setelah wisatawan Malaysia.
Mereka juga memprediksi potensi kerugian sektor industri pariwisata akibat dari COVID-19 setiap bulannya mencapai puluhan miliar karena anjloknya turis dari China.
Budijanto mengatakan kerugian tersebut muncul dari perhitungan keuntungan rata-rata Rp. 1 juta setiap turis dan prediksi pengurangan jumlah turis China tiap bulannya.
“Itu potensi kerugian pendapatan untuk paket tur saja seperti agen perjalanan, hotel, transportasi, pemandu wisata, restoran. Itu belum termasuk devisa ke negara dari pengeluaran mereka di sektor lain seperti pengrajin, oleh-oleh, yang rata-rata US$ 200 perhari,” kata Budijanto.
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan virus Corona menekan sektor pariwisata Indonesia karena wisatawan asing yang paling banyak berkunjung ke Indonesia adalah dari China.
Pemerintah menyatakan sedikitnya delapan daerah di Indonesia telah terjangkit COVID-19 mulai dari Jakarta hingga Manado Sulawesi Utara.
“Kalau kita lihat penyebarannya, sekarang sudah melebar. Jakarta, Jawa Barat termasuk di Bandung, Tangerang. Jawa Tengah di Solo dan Yogyakarta, di Bali, di Manado, di Pontianak” ujar Juru Bicara Pemerintah khusus penanganan virus Corona, Achmad Yurianto.
Lalu bagaimana mengatasi dampak ini terhadap perekonomian Indonesia?
Sebenarnya sektor pariwisata sudah mulai menurun semenjak isu bencana-bencana yang terjadi di Indonesia bahkan sekarang ditambah dengan isu COVID-19 ini akan membuat sektor pariwisata melemah, bukan hanya devisa Negara yang akan terancam tetapi banyak pekerja-pekerja seperti tourgaide hingga pelaku Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) yang bergerak makanan dan minuman maupun usaha kerajinan akan mengalami penurunan pendapatan.
Usaha mikro, kecil, menengah juga memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Bank Indonesia, pada 2016 sektor UMKM mendominasi 99% unit bisnis di Indonesia. Dari angka tersebut, jenis usaha mikro paling banyak menyerap tenaga kerja hingga 87%.
Di karenakan pariwisata menjadi kontributor besar bagi devisa Negara, pemerintah harus mengeluarkan kebijakan ekonomi seperti stimulus fiskal yang merupakan insentif atau dorongan dari sisi fiskal oleh pemerintah berupa pembebasan pajak seperti pajak hotel dan restoran didaerah-daerah wisata serta memastikan segmen UMKM tetap bergerak. Tetapi selain itu, prioritas utama pemerintah Indonesia saat ini adalah harus menjamin kesehatan dan keselamatan semua warga Negara Indonesia.







Comment