Bintan, suarakepri.com – Bertahun-tahun lamanya nasib para Nelayan di Kepulauan Riau (Kepri) khususnya Kabupaten Bintan masih menjadi sebuah permasalahan yang selalu dibahas setiap tahunnya.
Belum lama ini sejumlah Nelayan Bintan mengeluhkan sulitnya mendapatkan BBM subsidi Solar sejak sebulan yang lalu, dan permasalahan ini ditambah dengan hadirnya Pukat Trawl dan Cantrang dari luar daerah Kepri hingga membuat Nelayan Bintan merasa terjajah di negeri sendiri.
Hal ini disampaikan langsung oleh Roni salah satu Nelayan Tradisional Bintan yang merasakan dampak langsung langkanya BBM subsidi Solar dan hadirnya Pukat Trawl serta Cantrang dari luar daerah Kepri.
Dengan hadirnya Pukat Trawl dan Cantrang dari luar daerah, menurutnya menimbulkan sejumlah pertanyaan bagi para Nelayan. Dimana saat ini Nelayan Tradisional hanya menjadi penonton ditengah langkanya BBM subsidi Solar.
“Saat ini para Nelayan sudah sebulan tidak dapat melaut, dengan hadirnya dan bertambahnya Pukat Trawl serta Cantrang dari luar daerah justru akan membuat para Nelayan disini merasa dirugikan. Seharusnya pemerintah daerah menyelesaikan dan mensejahterakan dulu Nelayan daerah, baru bisa mengundang Nelayan luar untuk dapat masuk di perairan Kepri. Jangan biarkan kami para Nelayan hanya jadi penonton disaat orang luar daerah mengeruk keuntungan dari perairan kita,” tegas Roni.
Roni juga menyayangkan terkait adanya isu yang tengah beredar di masyarakat, dimana terdengar adanya mafia Solar yang tidak tersentuh oleh aparat dan adanya ormas yang dikenal selalu memperjuangkan nasib para Nelayan, justru malah mendukung hadirnya Pukat Trawl dan Cantran dari luar perairan Kepri, bahkan mendapatkan keuntungan hadirnya Pukat tersebut.
“Nelayan saat ini sedang susah, jika benar isu yang beredar tersebut, kepada siapa lagi kami harus percaya dan mengadu. Apalagi mereka adalah orang-orang yang berbicara tentang nasib Nelayan selama ini dan ternyata justru malah menghancurkan Nelayan,” ujar Roni. Selasa (23/08)
Menanggapi isu tersebut, Ketua KNTI Bintan Syukur Hariyanto alias Buyung Adly menanggapi terkait adanya keterlibatan oknum yang berbicara tentang Nelayan namun justru menghancurkan para Nelayan.
Menurutnya, hal ini merupakan suatu penghianatan terhadap apa yang menjadi cita-cita leluhur di negeri ini. Bearti oknum tersebut hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memikirkan keberlangsungan hidup para Nelayan tradisional.
“Kita tidak perlu menyebutkan orang tersebut, yang jelas oknum ini hanya ingin memuaskan keinginannya sendiri demi meraih keuntungan perorangan atau kelompok itu, dan beliau tidak mengerti tentang bagaimana nasib Nelayan yang sebenarnya,” ungkap Buyung.
Selain itu, Buyung juga memberikan tanggapannya terhadap langkanya BBM subsidi Solar untuk Nelayan yang memberikan dampak besar, dimana dalam sebulan lamanya para Nelayan tidak dapat mencari nafkah.
“Langkanya BBM subsidi ini sebenarnya sudah menjadi isu Nasional, memang saat ini tengah langka dan telah terjadi permasalahan yang berkepanjangan oleh para Nelayan. Saya menanggapi hal ini, seharusnya pemerintah mempunyai semacam langkah yang cepat dan tepat untuk menyelamatkan Nelayan,” ujar Buyung.
Masih sambungnya. Untuk mengatasi permasalahan dalam mengatasi dan mengantisipasi permasalahan nelayan, seharusnya pemerintah mengambil sikap yang tegas untuk menyelamatkan rakyatnya di daerah, kalau berbicara pemerintah pusat mereka kurang mengerti tentang wilayah perairan di Kepri, karena yang memahami dengan jelas wilayah setempat itu Gubernur, Bupati dan Kepala Daerah lainnya.
“Hari ini saya berharap kepada pemerintah daerah, yaitu peran seorang Gubernur, Bupati dan OPD lainnya untuk bersama-sama muncul di tengah-tengah masyarakat Nelayan. Permasalahan ini perlu kita siapkan untuk perlindungan bagi Nelayan kecil di daerah, Harus ada undang-undangnya yang tepat untuk mengatur, sehingga pemerintah daerah dapat mengambil sikap yang tegas menyelamatkan para Nelayan Tradisional. Nelayan butuh pemimpin yang bisa melindungi mereka,” tutup Buyung.






Comment