Promo FBS
FBS Reliable Broker
Bintan

PKBI Kepri Dorong Kolaborasi dan Aksi Nyata Hadapi Krisis Iklim dan Persoalan Sampah

233
×

PKBI Kepri Dorong Kolaborasi dan Aksi Nyata Hadapi Krisis Iklim dan Persoalan Sampah

Sebarkan artikel ini
Narasumber utama kegiatan multipihak, Siska Sukmawaty, S.H (baju hijau), Minggu (06/07). /F: Thafan Casper

Bintan, SuaraKepri.com – Perubahan iklim dan persoalan limbah kini menjadi tantangan nyata yang dihadapi masyarakat lokal. PKBI Daerah Kepulauan Riau memandang bahwa solusi atas persoalan ini tidak cukup hanya dari kebijakan atas, melainkan harus dibangun dari kekuatan komunitas. Melalui Pertemuan Multipihak yang dilaksanakan di Agro Bintan Hotel pada Minggu, 06 Juli 2025, PKBI Kepri memperkuat posisi komunitas dalam menjawab krisis lingkungan, melalui edukasi, seni, dan pengelolaan berbasis masyarakat.

Kegiatan ini diikuti oleh Komunitas Rumpun Waria Sehati dan Koperasi Rumpun Usaha Sehati, dua komunitas binaan yang saat ini tengah difasilitasi oleh PKBI Kepri. Mereka mendapatkan edukasi langsung mengenai pentingnya membangun jaringan (networking) dan komunikasi efektif sebagai fondasi awal gerakan sosial yang berdampak.

Peserta dari komunitas binaan PKBI Kepri, termasuk Rumpun Waria Sehati dan Koperasi Rumpun Usaha Sehati, berfoto bersama usai mengikuti sesi edukasi mengenai komunikasi, networking, dan penguatan peran komunitas dalam menghadapi perubahan iklim, Minggu (6/7/2025), di Agra Bintan Hotel. /F: Thafan Casper

Siska Sukmawaty, S.H. Wakil Ketua Cabang Tanjungpinang PKBI Kepri yang tampil sebagai narasumber utama, menekankan bahwa kekuatan komunitas akan sia-sia jika tidak mampu menjalin koneksi dengan  mitra, masyarakat, dan pemerintah. Ia menyebut bahwa PKBI Kepri bukan hanya memiliki program-program advokasi, tetapi juga SDM yang terus belajar dan berkembang untuk menyampaikan pesan-pesan perubahan secara lebih luas.

“Networking bukan hanya urusan siapa kenal siapa. Tapi bagaimana membangun komunikasi yang jujur, aktif, dan membawa nilai. Komunitas kita punya semangat, tapi agar terdengar dan diakui, harus ada strategi komunikasi dan kerja sama yang berkelanjutan,” ujar Siska.

Contoh konkret dari transformasi edukasi menjadi aksi nyata ditunjukkan oleh Iim Suhari, Ketua Cabang Bintan PKBI Kepri. Iim, yang juga pendiri kelompok seni Ruang Seni Tanpa Batas (Rusipatas), menggerakkan komunitas melalui pendekatan budaya. Lewat lagu ciptaannya yang bercerita tentan alam, serta praktik mengolah sampah menjadi karya seni, ia membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari kreativitas. Baginya, seni adalah bahasa universal yang bisa menyentuh lebih banyak orang dibandingkan sekadar imbauan formal.

“Sampah tidak harus menjadi beban. Dalam komunitas kami, ia bisa diubah jadi alat edukasi, bahan seni, dan simbol harapan,” ungkap Iim.

Sementara itu, Ketua Pengurus Cabang Tanjungpinang PKBI Kepri, Kemistia Eva, S.ST. menawarkan pendekatan berbeda, yaitu penguatan ekonomi komunitas melalui pengelolaan sampah. Melalui program bank sampah yang ia rintis, masyarakat diajak untuk menabung sampah sebagai bentuk tanggung jawab lingkungan dan sumber nilai ekonomi.

“Masyarakat sekarang sadar, bahwa sampah yang selama ini dibuang bisa bernilai. Dan yang terpenting, anak-anak mulai tumbuh dengan kesadaran itu sejak dini,” jelas Eva.

Kegiatan ini menegaskan bahwa PKBI Kepri tidak hanya menjalankan misi di bidang kesehatan seksual dan reproduksi, tetapi juga merespons isu-isu lingkungan yang semakin mendesak. Dengan menggabungkan edukasi, keteladanan, dan penguatan networking, PKBI Kepri ingin menjadikan gerakan sosialnya sebagai gerakan yang didengar dan didukung lintas sektor.

“Kami tidak ingin gerakan ini berhenti di ruang pertemuan, Kami ingin ia bergerak, masuk ke ruang publik, menyentuh kebijakan, dan menjadi bagian dari solusi di Kepulauan Riau.” ujar Siska menutup diskusi.

Comment

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat