by

Perempuan Pejuang Suku Laut, Langkah Denzi Diaz Saat Covid-19

Penulis : -Lingga-584 views

Lingga, SuaraKepri.com – Kisah perjuangan ini datang dari seorang wanita bernama Densi Bluzianti (46) mengawali karirnya menjadi guru paud, Densi Diaz sapan akrabnya, kini menjadi satu-satunya bunda bagi Masyarakat Suku Laut Bunda Tanah Melayu.

Dilansir dari wawancara tatap muka, Densi Diaz mengawali pengabdian dirinya sebagai seorang manusia yang memanusiakan orang, sejak 2013 bulan Februari ia mendirikan taman bacaan kajang dan hal ini pula yang akan menjadi awal mula cikal bakal Yayasan Kajang Kepuluan Riau terbentuk, Kamis (31/12/20).

Ia bercerita, saat itu bermula dari Selat Kongki, Desa Penaah, Kecamatan Senayang, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, ia yang berbesik akademisnya
hanya sebagai guru sekolah Paud, bertekad membuka taman bacaan di Selat Kongki.

Tidak sampai disitu, setelah berjalan lumayan lama serta, bahkan banyak nya dari masyarakat Suku Laut yang ternyata buta huruf dan banyak memiliki anak-anak, akhirnya disitu hati Densi Diaz merasa terpanggil untuk sama-sama dimasukkan dalam program pembelajaran yang ia buat sendiri.

“Walupun banyak kendala saat itu, banyak masyarakat tempatan yang tidak mau menerima, karna mereka anak-anak suku laut, setelah tengelam dalam dilema panjang, akhirnya anak-anak suku laut itu, saat saya kasi pengertian ke masyarakat bahwa mereka juga Indonesia, mereka anak Bunda Tanah Melayu, dan mereka juga memiliki hak yang sama, akhirnya masyarakat tempatan yaitu Desa Pena’ah menerima anak-anak itu untuk di masukkan ke sekolah Paud di Desa tersebut,” kata Densi Diaz kepada Suarakepri.com.

Usai berhasil memasukkan anak-anak Suku Laut tersebut di Paud, Densi Diaz bukanya berhenti, setelah berjalannya waktu, saat itu ia mulai melakukan pendekatan diri ke orang tua anak Suku Laut, dari sana ia tau bahwa mereka semua nya pada buta huruf dan akhirnya ia pun juga berniat untuk mengajar para orang tua di tempat tinggal mereka Selat Kongki.

Bukan hanya dari pendidikan saja yang dilihat Densi Diaz berantakan, namun hingga identitas berupa Kartu Keluarga (KK) mereka masyarkat Suku Laut saat itu tidak mendapatkan pelayanan bagus dari Pemerintah Desa, maupun Pemerintah Daerah.

“Yang lebih menyedihkannya lagi pada waktu itu anak-anak mereka sekitar 27 anak Selat Kongki itu tidak mempunyai akta kelahiran, karna bukan apa, karna orang tua mereka tidak menikah sah, dari situ lah saya satu tahun mengurus mereka untuk dinikah kan sah, sebagai warga negara Indonesia, dan pada hari selanjutnya mereka di nikahkan lah 14 pasang masyarakat Suku Laut secara catatan sipil, serta dari hari itu pula anak-anak mereka akhirnya memiliki akta kelahiran,” ia bercerita.

Tidak hanya di Selat Kongki saja Densi Diaz melakukan perubahan, ditahun selanjutnya ia mencoba merambat ke perkampungan-perkampungan desa lain, dan dalam perjalanan ia merenung dan bertekad untuk kekeh membangun SDM Suku Laut, menanamkan maensite, agar bagaimana mereka harus pintar, pandai.
Disana pula ia dibantu teman-teman yang silih berganti mengeluarkan kebijakan dan mencantumkan misi agar masyarakat Suku Laut harus mendapatkan pengakuan kalau mereka juga masyarakat yang sama dengan masyarakat pada umumnya.

Berkat usahanya, saat melihat para Suku Laut Selat Kongky Kabupaten Lingga yang jauh dari dunia pendidikan, wanita kelahiran Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu itu, rupanya selama ini usahanya dilihat oleh Bupati Lingga Alias Wello.

Terbukti pada tahun 2017 Densi Diaz menerima penghargaan dari Bupati Lingga Alias Wello karna sudah berjasa mengajarkan masyarakat Suku Laut baca tulis, hingga kini ia dikenal sebagai pahlawan Buta Askara Suku Laut Selat Kongki Penaah.

“Sebenarnya saya tidak mau mengejar ketenaran atau pun segalanya, karna ini murni panggilan hati dan saya itu tidak berfikir bahwa saya harus mendapatkan ini dapat itu dari pemerintah daerah, tapi saya mengetuk hati ke pemerintah daerah agar masyarakat suku laut ini tolong di perhatikan seperti masyarakat kita pada umumnya, dan pada waktu itu saya tidak menyangka bahwa saya mendapatkan piagam penghargaan dari Bupati Lingga Alias Wello sebagai motivator buta askara untuk anak minoritas suku laut,” harunya.

Menurutnya penghargaan ini bukan lah milik ia pribadi saja, namun penghargaan ini ia kira milik semua mayarakat suku laut yang sudah mau belajar baca dan menulis serta meninggalkan kebodohan-kebodohan di masa lampau.

Sambungnya kembali, jika berbicara rintang maupun likaliku apa saja yang tlah ia lalui, Densi mengkau cukup banyak dan menyedihkan, bahkan ia perna di posisi paling terpuruk dimana disaat itu bantuan dari pemerintah daerah belum ada sama sekali.

Ia pun harus menggunakan dana pribadi yang mana pada saat itu juga kehidupan ekonomi dia memang sedang terpuruk, tapi ia berkeyakinan di setiap pekerjaan itu pasti akan menuaikan hasil yang maksiamal, karna usaha tidak akan menghianati hasil.

Dengan seiring berjalannya waktu, disitu satu tempat akhirnya ia di perkenalkan dengan orang-orang hebat hingga disana tenaga, pikiran yang ia miliki di perlukan oleh para profesor, mahasiswa-mahasiswi untuk melakukan penelitian tentang suku adat tertinggal.

“Saya mulai mendampingi peneliti-penelitian yang datang ke Kabupaten Lingga untuk penelitian masyarakat suku laut, yang jumlah sebanyak 7 Universitas baik dari dalam negri mau pun dunia, salah satu nya seperti Universitas UNRI, UNICEF, UI, ITB kemudian dari Jogja waktu itu, intinya ada 7 Universitas, dan dari situ saya mulai belajar dari mereka, oh harus seperti ini, seperti itu, dan ada satu lagi peneliti datang dari Thailand,”

“Hingga akhirnya ada teman yang tinggal di Batam menawarkan kepada saya untuk mendirikan sebuah yayasan, maka terbentuk lah saat ini nama Yayasan Kita yaitu Yayasan Kajang Kepulauan Riau yang terbentuk pada tahun 2018 lalu,” jelasnya.

Lanjut dia, setelah Yayasan Kajangnya terbentuk, ia pun bersama tim memulai untuk memperjuangkan nasib Suku Laut hingga ke tingkat pusat Jakarta, disitu ia menceritakan memulai audensi ke Kementrian.
Namun baru saja ingin memulai, ia harus menelan kepahitan karna pertanyaannya selama ini tentang apa yang membuat masyarakat suku laut sulit untuk mendapatkan pengakuan, terjawab sudah, sebab saat ini Kementrian sudah menghapus tentang komunitas adat terpencil di Kabupaten Lingga sejak 2015 lalu.

“Karna tidak adanya laporan dari kita tingkat bawah atau pun dari Kabupaten Lingga, yang menyebabkan Kementrian beranggapan setelah mereka memberikan bantuan rumah, maka mereka menganggap hidup masyarakat suku laut sudah sejahterah dan akhirnya mereka tidak mendapatkan apa-apa lagi, sementara suku laut di Kabupaten Lingga selama ini seperti menunggu dan terus menunggu uluran tangan pemerintah, namun semua sirna,” ujarnya.

Tidak berhenti begitu saja, ia bersama tim saat mencoba mengumpulkan hasil dari penelitian-penelitian yang ia rangkum untuk kemudian disatukan, ternyata didapati fakta bahwa memang masyarakat suku laut untuk di Kabupaten Lingga, untuk isu di tingkat nasional sendiri mengalami krisi identitas.

Akibat penghapusan identitas oleh Kementrian itu rupanya berdampak kepada sebutan istilah masyarakat suku laut, karna kini mereka bukan KAT lagi, namun ibarat pepatah jika tuhan menghendaki maka disitu terdapat jalan, akhirnya ia mendapatkan lampu hijau dari kementrian, yang mana ia di sarankan oleh kementrian untuk menggesah pemerintah daerah untuk memberikan mengakuan khusus yaitu masyarakat adat.

“Sampai hari ini perjuangan masih terus saya lakukan untuk mendapatkan pengakuan dari Pemerintah Kabupaten Lingga, allhamdulilah hari ini saya dibantu oleh sahabat-sahabat saya dari Babinsa Lingga Pak Remon untuk kegiatan-kegiatan kedepannya,” sebutnya.

Sementara itu, disaat pandemi virus corona (Covid-19) sedang menghantam dunia, Indonesia hingga ke Kabupaten Lingga, terlihat Densi Diaz tidak berhenti melakukan sosialnya kepada masyarakat Suku Laut, bayangkan saja untuk agenda akhir tahun saja, ia dibantu oleh tim Yayasan Kajang melancarkan satu program di Pulau Kojong berupa salam Literasi.

“Di masa Covid-19 selama ini kami masih membuka kegiatan-kegiatan, karna saya pikir di tempat mereka lebih higenis dan saya setiap ada kegiatan selalu membuka literasi, kami ada beberapa literasi yang kami buka di perkampungan suku laut itu, salah satunya kita membagikan masker, menyediakan tempat mencuci tangan hingga memberikan pemahaman untuk mematuhi Prokes kesehatan, dan setelah itu kita baru belajar,” jelasnya.

Bukan itu saja, selain membuka jendela literasi, ia juga melakukan bakti sosial dipulau tersebut selama satu minggu tim Yayasan Kajang melakukan orsorvasi untuk mensukseskan kegiatan sosial itu.

“Dan yang kami terapkan itu untuk selalu menjaga kebersihan, kemudian kami pun baru sudah melakukan satu rangkaian kegiatan akhir tahun untuk Yayasan Kajang yaitu sunat masal yang di gelar di Pulau Kojong,” pungkasnya.

Penulis : Febrian S.r

Comment

Berita Lainnya