Promo FBS
FBS Reliable Broker
Tanjungpinang

Ketika Informasi Lebih Cepat dari Nalar, PMII Tanjungpinang-Bintan Buka Ruang untuk Menguji Kebenaran

20
×

Ketika Informasi Lebih Cepat dari Nalar, PMII Tanjungpinang-Bintan Buka Ruang untuk Menguji Kebenaran

Sebarkan artikel ini
PMII Tanjungpinan-Bintan bersama PWI Tanjungpinang. /F: ist

Tanjungpinang, suarakepri.com — Di tengah derasnya arus informasi media sosial, persoalan yang dihadapi anak muda bukan lagi sekadar kekurangan informasi. Justru sebaliknya, informasi datang terlalu cepat, sementara kemampuan untuk memeriksa dan mengujinya kerap tertinggal.

Kondisi itulah yang coba dijawab Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Tanjungpinang-Bintan melalui Ruang Nalar, forum diskusi yang diluncurkan di Kantor Bawaslu Kota Tanjungpinang, Minggu (13/9/2026).

Program tersebut dirangkaikan dengan Pelatihan Esensi Narasi dan Aksara (PENA). Namun, gagasan yang dibawa tidak berhenti pada pelatihan menulis atau kemampuan menyampaikan pendapat. PMII ingin membangun kebiasaan baru, tidak menerima sebuah informasi hanya karena ramai dibicarakan.

Ketua PC PMII Tanjungpinang-Bintan, Muhammad Al Mujrin, mengatakan Ruang Nalar akan digelar dua kali dalam sebulan dalam 10 pertemuan dengan mengangkat berbagai persoalan strategis daerah.

Menurutnya, derasnya informasi di media sosial telah membuat narasi yang konstruktif sering kalah cepat dibandingkan isu yang belum teruji kebenarannya.

“Tantangan utama kita adalah narasi yang konstruktif sering kali kalah oleh isu-isu liar yang berkembang cepat di media sosial. Kehadiran ruang diskursus seperti ini penting agar mahasiswa mampu mengawal dan menyaring informasi yang baik, benar, dan berimbang,” ujar Al Mujrin.

Pernyataan tersebut menjadi penting karena mahasiswa selama ini tidak hanya berada di posisi sebagai konsumen informasi. Mereka juga merupakan salah satu kelompok yang aktif membentuk opini publik melalui organisasi, forum diskusi maupun media sosial.

Karena itu, kemampuan membaca persoalan dinilai tidak cukup hanya dengan keberanian bersuara. Ada tuntutan untuk memahami konteks, memeriksa informasi, dan mempertanggungjawabkan narasi yang disampaikan.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Tanjungpinang, Suhardi, yang membuka Ruang Nalar, mengingatkan mahasiswa mengenai posisi strategis mereka dalam ekosistem informasi.

Menurut Suhardi, organisasi mahasiswa dapat menjadi salah satu sumber informasi bagi masyarakat. Namun, peran tersebut harus dibarengi hubungan yang baik dengan jurnalis sekaligus pemahaman mengenai fungsi mahasiswa sebagai kekuatan kontrol sosial.

Ia menilai forum seperti Ruang Nalar penting untuk menghidupkan kembali tradisi menguji gagasan sebelum sebuah informasi dibawa ke ruang publik.

“Ruang diskusi dan Ruang Nalar yang dicetuskan PMII ini patut diapresiasi. Di era sekarang, kita sering kali kalah bersaing dengan isu-isu di media sosial,” kata Suhardi.

Ia menjelaskan, informasi yang diproduksi melalui kerja jurnalistik memiliki mekanisme kontrol sebelum diterbitkan. Hal tersebut berbeda dengan media sosial yang memungkinkan siapa pun menyebarkan informasi dalam hitungan detik.

Perbedaan itu, menurutnya, perlu dipahami mahasiswa agar tidak mencampuradukkan kebebasan berekspresi di media sosial dengan proses kerja jurnalistik.

Dari ruang diskusi tersebut, pembahasan kemudian berlanjut melalui PENA dengan menghadirkan Aji Nugraha sebagai pemateri.

Peserta diperkenalkan pada dasar-dasar kewartawanan, proses kerja jurnalistik hingga teknik dasar foto dan video untuk mendukung penyampaian informasi.

Bagi PMII Tanjungpinang-Bintan, rangkaian kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk membangun ruang belajar yang tidak hanya menghasilkan orang yang pandai berbicara, tetapi juga mampu menguji apa yang akan dibicarakan.

Ruang Nalar dijadwalkan berlangsung dua kali setiap bulan. Sepuluh pertemuan dengan sepuluh tema strategis daerah akan menjadi ruang bagi mahasiswa dan pemuda untuk membaca persoalan Tanjungpinang-Bintan dari berbagai sudut.

Di tengah budaya informasi yang semakin cepat, forum ini pada akhirnya menghadirkan pertanyaan sederhana: ketika semua orang bisa menyebarkan informasi, siapa yang masih mau berhenti sejenak untuk memastikan informasi itu benar?

Pertanyaan itulah yang coba dijawab Ruang Nalar.

Comment