Kurangnya Support System Dalam Keluarga Menjadi Pemicu Aksi Nekat Penggorokan

  • Share

Tafan Juristian Putra, Amd.Kep.

Ketua Pelajar Intelektual, Mahasiswa dan Anak Negeri (Piaman Community), dan Kabiro Bintan

banner 336x280

Tanjungpinang, suarakepri.com – Aksi nekat seorang ibu bernama Kanti Utami (35), warga Desa Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah yang tega menggorok anaknya hingga tewas pada hari Minggu tanggal 20 Maret 2022, diindikasikan karena mengalami depresi berat.

Berdasarkan dari hasil analisa perbuatan pelaku penggorokan terlihat adanya tanda dan gejala yang mengarah kepada gangguan kejiwaan, yaitu depresi berat dengan faktor himpitan ekonomi, kurangnya perhatian serta dukungan dari orang sekitarnya, dan luka masa kecil atau inner child.

Hal tersebut berdasarkan informasi dari rekaman video yang beredar, dimana raut wajah pelaku pada saat penangkapan di Polres Brebes terlihat awalnya tersenyum dan sempat meminta air hangat karena kehausan, selanjutnya pelaku juga mengatakan bahwa dirinya dari kecil sudah sering dikurung.

Meski awalnya terlihat tersenyum, beberapa saat kemudian dirinya merasa sedih pada saat menceritakan kondisi keluarganya yang serba kekurangan, baik kurangnya kasih sayang maupun ekonomi. Sehingga dirinya sempat mengatakan ingin disayang sama suaminya.

Pelaku juga mengatakan bahwa dirinya tidak merasa gila dan hanya ingin menyelamatkan anaknya agar tidak hidup susah dengan cara harus dibunuh biar tidak merasakan kesedihan seperti dirinya. Hal ini disebabkan karena pelaku tidak sanggup menerima kenyataan jika kontrak kerja suaminya berakhir dan menjadi pengangguran lagi.

Depresi Berat dan Inner Child

Dari pernyataannya terlihat adanya kecendrungan memiliki pandangan putus asa dan tidak percaya diri. Hal ini sesuai dengan defenisi dari Depresi Berat yaitu gangguan suasana hati yang mempengaruhi sudut pandang seseorang tentang kehidupan secara umum, dimana gejala depresi paling umum adalah orang tersebut memiliki pandangan putus asa atau tidak berdaya dalam hidup sehingga memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidupnya atau orang yang paling disayanginya.

Selain itu, Pengakuan dari pelaku kemungkinan adanya trauma atau luka dimasalalu (inner child), hal ini berdasarkan dari pernyataannya yang sejak kecil selalu dikurung.

Luka masa lalu atau inner child adalah sekumpulan peristiwa masa kecil, yang baik atau buruk, sehingga membentuk kepribadian seseorang seperti sekarang ini. Makanya banyak yang menyarankan sebagai orang tua harus mencoba atau berusaha berdamai dengan inner child yang mungkin masih memiliki luka-luka yang belum sembuh.

Pentingnya Perhatian dan Dukungan Keluarga Sebagai Support System

Salah satu penyebab terjadinya gangguan kesehatan pada kejiwaan dikarenakan kurangnya perhatian dan dukungan dari dalam keluarga, padahal semestinya keluarga memiliki peran utama sebagai support system dalam menjaga hubungan dan kesehatan mental dari dalam, seperti yang dialami oleh pelaku dimana dirinya menginginkan perhatian dan kasih sayang dari suaminya.

Namun pada kenyataannya saat ini, masih banyak masyarakat yang kurang menyadari betapa pentingnya mendalami peran dalam keluarga, padahal keluarga memiliki banyak peran yang dimiliki oleh setiap anggota keluarga.

Mengutip dari tulisan Candra Merida, Sarita dalam tulisannya yang berjudul “Memelihara Support System dalam Keluarga” menjelaskan bahwasanya keluarga merupakan bagian dari support system yang memelihara keberfungsian dalam keluarga dan memiliki peran masing-masing, baik peran sebagai pasangan, peran sebagai orangtua dalam mendidik anak dan peran seorang anak itu sendiri.

Semua peran yang dijalani memiliki fungsi sebagai support system. Contohnya kerjasama dengan pasangan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, memberikan pengasuhan terhadap anak dan menjalin komunikasi yang dapat saling memberikan kenyaman merupakan bentuk support system terhadap pasangan.

Saat pasangan merasa di dukung satu dengan yang lain, maka membantu dalam menjalankan perannya yang lain dalam hal ini sebagai orangtua, baik sebagai Ayah maupun Ibu. Ayah dan Ibu dapat bekerjasama dalam memberikan dukungan terhadap anak berupa motivasi, pengetahuan bahkan kenyamanan secara emosional. Diantaranya menjadi teman curhat atau berbagi anak sehingga anak dapat mengekspresikan emosinya dengan orangtuanya.

Hubungan yang terjalin dengan baik antara anak dan orangtuanya dapat mendorong seorang anak untuk lebih dekat, menghormati dan menghargai dengan kedua orangtua sehingga anak pun mudah untuk diajak bekerjasama. Misalnya, saling membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Anak pun menjadi mudah dan lebih leluasa dalam mengkomunikasikan gagasannya dengan orangtuanya.

Maka dari itu dengan adanya support sistim dalam keluarga, dapat mengurangi disfungsi dari peran setiap anggota keluarga sehingga mengoptimalkan setiap anggota menjalankan peran dan fungsinya dalam keluarga. 

  • Share