banner 728x250

Atas Tuduhan Pembakaran Lahan, Seorang Petani Mendapat Pembelaan Hukum

  • Share

Bintan,suarakepri.com – Dianggap membakar lahan hutan milik (BMW), seorang petani bernama Agus dilaporkan ke Polsek Gunung Kijang pada hari Minggu, 11 April 2021.

Perkembangan penyelidikan saat ini sudah memasuki tahap persidangan pemeriksaan saksi-saksi pada hari Senin, 20/09/2021 di kantor Pengadilan Negeri Kelas 1A Tanjungpinang.

banner 336x280

Merasa tidak terima atas laporan tersebut, Agus menunjuk seorang kuasa hukum untuk mendampinginya dalam persidangan yang bernama Bakhtiar Batubara, S.H dan rekan atas dugaan pembakaran hutan pada hari Minggu, 10 April 2021.

Menurut Bakhtiar Batubara, S.H berdasarkan data dan informasi yang diperoleh, kliennya dilaporkan oleh seorang petugas dengan jabatan sebagai Kepala Sekuriti, Raja Jahuddin yang telah diberikan kuasa oleh PT BMW untuk membuat laporan pada hari Minggu, 11 April 2021.

Dalam laporan tersebut, PT BMW merasa dirugikan atas pembakaran lahan hutan miliknya tanpa izin dan menuntut agar terdakwa dihukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Pada saat persidangan hari ini, Jaksa telah menghadirkan dua orang saksi, yaitu seorang Kades Toapaya, Sayet dan RT 003/RW 007 Kampung Yome Desa Toapaya, Sutrisno.

Masih kata Bakhtiar, Dalam keterangan yang diberikan oleh Sayet menjelaskan bahwasanya ia baru mengetahu permasalahan tersebut satu hari setelah kejadian, dan pada saat turun kelapangan sekitar dua minggu kemudian bersama pihak Kepolisian, ia melihat adanya bekas kebakaran sekitar lebih kurang dua hektar.

Sayet menjelaskan, Lahan tersebut memang merupakan lahan milik PT BMW yang sudah memiliki HGB sekitar tahun 90an dan menurutnya data tersebut memang ada di kantor Desa Toapaya.

Ia juga menjelaskan tidak ada transaksi pembebasan lahan selama ia menjabat. Dan itu terjadi pada saat kepala desa sebelumnya menjabat. PT BMW menyatakan bahwasanya sudah membebaskan lahan tersebut dari masyarakat.

Namun, Pada saat ditanyakan oleh penasehat hukum tentang batas wilayah lahan tersebut. Sayet mengatakan tidak mengetahui secara pasti, dan menyatakan bahwaaanya dahulu itu merupakan hutan yang sebelumnya telah dilakukan pembalakan oleh orangtua terdahulu di tahun 80an.

Ia menjelaskan pada tahun 86 ikut melakukan pembalakan dan setelah itu lahan tersebut telah menjadi semak semak. Dan bahkan sebelumnya ada Petani Gambir yang sempat mengolah lahan tersebut. Hingga pernah ditanami Kacang dan Pisang.

Tapi pada saat, sekitar tiga bulan yang lalu, ia pernah sempat masuk kelahan yang dimaksudkan, namun ia tidak melihat adanya aktivitas pertanian ditempat lokasi.

Selama menjabat sebagai Kepala Desa, ia tidak pernah menegur masyarakat yang mengolah lahan tersebut, dan ia baru mengenal terdakwa setelah di kantor polisi.

Ia juga menjelaskan, Sebelumnya pernah diadakan mediasi terkait lahan yang sama. Namun, dia belum mengetahui apakah terdakwa ikut dalam mediasi tersebut apa tidak, dan hingga saat ini terdakwa belum pernah meminta izin ke Kantor Desa.

Atas pernyataan dari Kepala Desa tersebut, Bakhtiar menjelaskan bahwasanya pada saat tanggal 12 Agustus 2021 yang lalu. Ia sempat meninjau lokasi bersama BPN Bintan, Para Petani, Camat Gunung Kijang, dan Kades Toapaya.

Terkait pernyataan Kepala Desa juga menyebutkan bahwaaanya kejadian kebakaran berdekatan dengan Pos Security PT BMW. Dan belum ada patokan pasti terkait lahan yang dipermasalahkan.

Kemudian. Berdasarkan keterangan terdakwa, ia membantah dan mengatakan yang dibakar lebih kurang 1000 meter. Adapun yang dibakar merupakan sampah dan rumput liar.

Selanjutnya, Bakhtiar mengungkapkan informasi yang diberikan oleh saksi lainnya. Sutrisno yang baru menjabat sebagai RT dipertengahan tahun 2020. dalam keterangannya. Sutrisno tidak mengetahui kejadian kebakaran tersebut.

“Ia juga tidak mengetahui lokasi pasti kejadian karena tidak pernah turun. Dan hanya mengetahui pada saat diperiksa oleh kepolisian,” menurut Bakhtiar berdasarkan keterangan saksi.

Ia menjelaskan, Jarak rumah saksi tersebut dengan kejadian lebih kurang 15 Km. Saksi juga tidak mengenal sama terdakwa dan tidak mengetahui kalau ada yang bertani di Desa Kampung Lome.

Saksi juga menjelaskan. Bahwasanya Pos Sekuriti baru dibangun tidak lama setelah kejadian adanya pembakaran hutan tersebut.

“Sepengetahuan dia. Kejadian ini tidak ada melihat asap dari jarak rumahnya dan belum pernah ke lokasi. Dan kasus ini akan dilanjutkan pada tanggal 30/09/2021 dengan mendatangkan saksi-saksi yang meringankan untuk terdakwa,” tutup Bakhtiar.

  • Share