Berani Mempertanggungjawabkan, Perselisihan Kelompok Tani Berakhir Damai

  • Share

Bintan, suarakepri.com – Sebelumnya sempat beredar adanya dugaan pembakaran lahan hutan lindung yang dilakukan oleh Minhat atas arahan dari Jansen Siregar. Namun, setelah ditelusuri lebih lanjut, diketahui bahwasanya lahan yang terbakar merupakan lahan garapan Kelompok Tani Gunung Lengkuas.

Menurut keterangan Paijo yang merupakan salah seorang petani menjelaskan, bahwasanya lahan yang terbakar di lokasi Gunung Lengkuas merupakan lahan garapan milik Kelompok Tani Gunung Lengkuas.

banner 336x280

“Jadi, sebenarnya yang terbakar itu merupakan lahan garapan Kelompok Tani Gunung Lengkuas, dimana sebagian lahan masih menjadi tanggung jawab saya dan beberapa rekan lainnya. Makanya saya keberatan ketika lahan tersebut terbakar oleh salah seorang anggotanya pak Jansen Siregar yang bernama Minhat. Namun, setelah mendapat penjelasan dari pak Jansen Siregar, kejadian tersebut murni dikarenakan musibah,” ujar Paijo.

Ia menerangkan berdasarkan informasi yang diperoleh dari Jansen Siregar. Kejadian tersebut bermula ketika salah seorang anggotanya (Minhat) dipercayakan untuk membersihkan rumput dan tumbuhan kering lainnya disekitar lokasi. Namun, pada saat hendak ingin memadamkan api, sisa pembakaran tidak sepenuhnya padam, sehingga menyebabkan api menyala kembali dan mengenai tanaman milik kelompok tani. Akibatnya, kelompok tani mengalami kerugian dikarenakan sebagian tanaman yang telah ditanam jadi ikut terbakar.

“Alhamdulillah, karena pak Jansen Siregar sudah mau menemui kami dan berjanji untuk mempertanggungjawabkan kelalaian anggotanya, saya secara pribadi sudah menerima itikad baik pak Jansen. Apalagi pak Jansen punya niat untuk mengembalikan bibit tanaman yang sempat terbakar, selain itu juga beliau mengatakan ingin memfasilitasi kebutuhan Kelompok Tani Gunung Lengkuas agar kedepannya hasil tani yang kami garap dapat berkembang,” ungkap Paijo.

Dilain pihak. Jansen Siregar membenarkan terkait kelalaian yang dilakukan oleh anggotanya, dan mengatakan pada saat kejadian dirinya sedang berada di Kota Medan.

“Sebenarnya saya sedikit terkejut dengan kejadian ini, tapi mau bagaimana lagi, Ini sudah terjadi. Saya juga tidak sepenuhnya menyalahkan anggota saya. Mungkin saja pada saat kejadian, anggota saya sedang kelelahan. Makanya tidak melihat dengan betul api itu sudah padam apa tidak. Selain itu, saya juga tidak pernah menyuruh untuk membakar, yang saya suruh dan diamanahkan kepada anggota saya adalah untuk membersihkan rumput yang ada disekitar, karena rencana saya kedepannya lahan tersebut mau ditanami durian dan kelapa,” ujar Jansen Siregar.

Jansen juga menjelaskan, pada saat kejadian dirinya sedang berada di Kota Medan untuk menghadiri acara pesta adat, sehingga tidak dapat mengawasi apa yang dilakukan oleh anggotanya. Namun, dikarenakan kejadian ini merupakan tanggungjawabnya, pada tanggal 30 November 2021, ia berinisiatif untuk bertemu dengan para Kelompok Tani Gunung Lengkuas, agar kejadian ini dapat diluruskan dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.

“Setelah saya dari Medan, saya langsung pulang untuk bertemu Kelompok Tani Gunung Lengkuas, ya maklumlah, dengan kejadian ini jangan sampai ada pikirannya mereka kalau saya ingin menguasai lahan. Disini juga saya numpang, makanya, agar tidak ada yang merasa dirugikan, saya berinisiatif untuk mengganti bibit tanaman dan akan membantu mereka dalam memenuhi kebutuhannya,” pungkas Jansen Siregar.

Tambahnya singkat. Semoga dengan kejadian ini dapat menjadi pelajaran bagi dirinya, dan kedepannya tidak ada lagi masalah yang terjadi.

“Harapan saya, kedepannya saya akan lebih bersinergi dengan para Kelompok Tani Gunung Lengkuas, dan saya juga sudah berjanji untuk membantu mereka dalam mengembangkan pertaniannya. Selain itu, jika diizinkan oleh pemerintah, saya akan memfasilitasi akses jalan agar mudah dilewati,” tutup Jansen Siregar.

  • Share