Promo FBS
FBS Reliable Broker
Bintan

Biopori Jadi Solusi Warga Dendun Kelola Sampah dan Jaga Resapan Air

16
×

Biopori Jadi Solusi Warga Dendun Kelola Sampah dan Jaga Resapan Air

Sebarkan artikel ini
Foto bersama peserta, tim pelaksana, mahasiswa, alumni, serta pemerintah Desa Dendun dan unsur RT/RW usai kegiatan edukasi dan praktik pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB) di Aula Desa Dendun, Kecamatan Mantang, Kabupaten Bintan, 9 Juli 2026. /F: ist

Bintan, suarakepri.com – Pengelolaan sampah organik sekaligus upaya menjaga ketersediaan air menjadi perhatian masyarakat Desa Dendun, Kecamatan Mantang, Kabupaten Bintan. Melalui edukasi dan praktik pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB), warga diajak mengolah sampah organik dari rumah sekaligus meningkatkan resapan air hujan ke dalam tanah.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Aula Desa Dendun pada 9 Juli 2026. Kegiatan digelar oleh Zainul Ikhwan dari Program Studi D-III Sanitasi, Jurusan Kesehatan Lingkungan, bersama Asmarita Jasda dari Program Studi D-III Keperawatan, Jurusan Keperawatan, Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang, dengan melibatkan mahasiswa dan alumni.

Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Kepala Desa Dendun, Eva, serta ketua RT dan RW setempat. Sebanyak 30 peserta yang terdiri dari pemuda dan pemudi, bapak dan ibu, serta unsur RT dan RW mengikuti kegiatan tersebut.

Zainul Ikhwan mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan karena masih diperlukan peningkatan pengetahuan dan kepedulian masyarakat dalam pengelolaan sampah, khususnya sampah organik.

“Sebagai pulau kecil dengan keterbatasan daya dukung dan daya tampung lingkungan, Pulau Dendun memerlukan pengelolaan sampah yang lebih optimal. Lebih dari 50 persen sampah yang dihasilkan merupakan sampah organik, sehingga terdapat potensi untuk mengurangi timbulan sampah melalui pengelolaan yang dapat dilakukan di tingkat rumah tangga,” ujar Zainul, Minggu (23/08).

Menurutnya, persoalan lingkungan di Dendun tidak hanya berkaitan dengan sampah. Keterbatasan akses dan ketersediaan air bersih juga menjadikan pemanfaatan air hujan serta peningkatan resapan air sebagai hal yang penting bagi masyarakat.

“Biopori dipilih karena dapat menjawab kedua persoalan tersebut secara sederhana dan terpadu, yaitu membantu mengolah sampah organik sekaligus meningkatkan infiltrasi air hujan ke dalam tanah,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, warga tidak hanya mendapatkan materi mengenai manfaat biopori, tetapi juga mengikuti praktik secara langsung. Peserta diperkenalkan dengan tahapan pembuatan biopori, mulai dari menentukan lokasi, membuat lubang, memasukkan sampah organik, melakukan perawatan, hingga memanen dan memanfaatkan hasil kompos.

Biopori juga diperkenalkan sebagai salah satu metode sederhana untuk membantu memasukkan air hujan ke dalam tanah. Dengan meningkatnya infiltrasi, aliran air di permukaan dapat dikurangi sehingga berpotensi membantu mengurangi genangan sekaligus mendukung konservasi air tanah.

Edukasi dan praktik tersebut menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta. Sebelum kegiatan, pengetahuan warga mengenai cara membuat biopori tercatat sebesar 30 persen. Setelah kegiatan, angka tersebut meningkat menjadi 90 persen.

Pemahaman mengenai perawatan biopori juga mengalami peningkatan, dari 33,3 persen sebelum kegiatan menjadi 93,3 persen setelah mendapatkan edukasi dan praktik.

Tidak hanya pengetahuan, minat warga untuk menerapkan biopori secara mandiri juga meningkat. Sebelum kegiatan, hanya 40 persen warga yang menyatakan bersedia membuat biopori apabila mendapatkan alat dan pendampingan. Setelah kegiatan, angka tersebut meningkat menjadi 93,3 persen.

Kemampuan praktik peserta juga menunjukkan perubahan. Warga yang mampu membuat lubang biopori meningkat dari 20 persen menjadi 90 persen. Kemampuan merawat biopori meningkat dari 26,7 persen menjadi 93,3 persen. Sementara itu, kemampuan memanen dan memanfaatkan hasil kompos meningkat dari 16,7 persen menjadi 86,7 persen.

Zainul berharap penerapan biopori tidak berhenti pada kegiatan edukasi, tetapi dapat berkembang menjadi kebiasaan masyarakat dalam mengelola lingkungan di sekitar rumah.

“Dengan demikian, penerapan biopori menjadi salah satu upaya untuk mengurangi timbulan sampah, mendukung konservasi air, dan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan,” ujarnya.

Keterlibatan pemerintah desa, RT/RW, mahasiswa, alumni, serta masyarakat diharapkan dapat menjadi penguat keberlanjutan program. Dengan penerapan yang dilakukan dari tingkat rumah tangga, pengelolaan sampah organik dan pemanfaatan air hujan dapat menjadi bagian dari upaya bersama menjaga lingkungan Pulau Dendun.

Dari sebuah lubang sederhana di halaman rumah, warga Dendun belajar bahwa sampah organik dapat dimanfaatkan, air hujan dapat dikelola, dan kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari lingkungan tempat tinggal sendiri.

Comment