Oleh : Ockynawa Asmara Putri Yolanda
Mahasiswa Umrah Tanjungpinang
Saat ini istilah “alergi pengelolaan” pada setiap individu masyarakat mulai mengalami penurunan. Pentingnya upaya menjaga lingkungan sudah tampak mulai tumbuh pada diri masyarakat dan sudah mulai mengalami peningkatan, meskipun jumlahnya masih tergolong sangat rendah.
Kesadaran tersebut umumnya muncul begitu saja lewat peristiwa atau fenomena yang secara langsung dirasakan oleh masyarakat.
Berdasarkan penuturan beberapa warga yang berprofesi sebagai nelayan pada wilayah perairan Sei Carang, Sei Timun dan Kota Piring, Kota Tanjungpinang, diperoleh informasi bahwa sebenarnya mereka memahami bahwa perubahan lingkungan mempengaruhi hasil tangkapan.
Namun, tidak ada tindakan yang mereka lakukan dikarenakan keterbatasan pengetahuan tentang bagaimana upaya pengelolaan yang harus mereka lakukan.
Pengelolaan sumberdaya perairan sejatinya bukanlah suatu hal yang rumit untuk dilaksanakan. Menjaga kondisi lingkungan lewat faktor fisika, kimia serta biologi lingkungan perairan merupakan suatu bentuk dari upaya pengelolaannya.
Dalam hal ini pada lingkungan perairan dapat berupa mempertahankan kestabilan kualitas perairan dan eksistensi suatu ekosistem, seperti ekosistem terumbu karang, ekosistem lamun (atau setu), dan ekosistem mangrove.
Hubungan menjaga kestabilan kualitas perairan dan eksistensi suatu ekosistem dengan pengelolaan sumberdaya perairan memiliki hubungan yang keterkaitannya cukup erat. Bila terjadi degradasi pada salah satu faktor, maka akan mempengaruhi faktor-faktor lainnya.
Sebagai contohnya ialah penurunan kualitas perairan pada perairan Sei Carang dan Sei Timun berupa meningkatnya kekeruhan air dan sedimentasi yang terjadi menyebabkan hasil tangkapan nelayan dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Tingginya kekeruhan dan sedimentasi tersebut dipengaruhi oleh kegiatan pasca-tambang dan hilangnya vegetasi alami mangrove.
Hal tersebut diperoleh berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan serta wawancara pada masyarakat setempat.
Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan upaya pemulihan dan perlindungan pada ekosistem bila ingin mewujudkan pengelolaan berkelanjutan.
Salah satu upaya pengelolaan yang dapat dilakukan oleh masyarakat secara umum dapat berupa pengelolaan pada ekosistem mangrove.
Hal tersebut dikarenakan ekosistem mangrove merupakan ekosistem yang lebih dekat dengan daratan dan sensitifitas yang lebih rendah dibandingkan pada ekosistem lamun dan terumbu karang.
Ekosistem mangrove atau yang lebih dikenal dengan nama bakau merupakan salah satu jenis tanaman yang hidup pada wilayah pesisir dengan dipengaruhi air bersalinitas (air asin) dan air tawar.
Mangrove tersebut memiliki peran dan fungsi sebagai daerah perputaran unsur hara atau nutrient, melindungi pantai dari erosi dan abrasi, melindungi pemukiman penduduk dari terpaan badai dan angin dari laut, dan sebagai penopang kehidupan berbagai biota (baik biota akuatik maupun biota daratan) yang hidup dan berasosiasi di dalamnya.
Biodata-biodata yang berasosiasi memanfaatkan ekositem mangrove sebagai tempat mencari makan, memijah/bertelur dan tumbuh, serta sebagai habitat.
Pada kasus biota akuatik yang masih kecil, seperti anakan-anakan ikan dan udang, mereka akan memanfaatkan akar-akar mangrove sebagai tempat persembunyian agar tidak diserang oleh predator.
Kemudian setelah dewasa dapat beruaya ke perairan bebas dan kembali pada saat memijah.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka bila terjadi kerusakan vegetasi alami mangrove serta kegiatan alih fungsi lahan mangrove harus segera ditindaklanjuti agar pendegradasian lingkungan tidak menyebabkan sumberdaya perikanan ikut mengalami degradasi secara besar-besaran.
Karena hal tersebut juga dapat menurunkan taraf hidup masyarakat, khususnya yang memilki penghasilan utama lewat pemanfaatan sumberdaya secara langsung dari alam.
Oleh karena itu, beragam aksi yang dapat dilakukan sebagai wujud upaya pengelolaan tersebut dapat berupa pemberian pemahaman lebih lanjut mengenai manfaat mangrove serta resiko yang timbul bila mangrove tersebut hilang, kegiatan menanam pohon mangrove disepanjang pesisir pantai atau sungai pasang-surut (Sei), penerapan alat penangkapan ikan yang selektif dan ramah lingkungan, serta mengurangi kegiatan alih fungsi lahan mangrove.







Comment