Bintan, suarakepri.com — Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Kabupaten Bintan menyatakan dukungan penuh terhadap langkah strategis Bupati Bintan, Roby Kurniawan, yang berencana mengupayakan agar Kabupaten Bintan memiliki sistem pembangkit listrik mandiri. Langkah ini dinilai sebagai solusi krusial agar Bintan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pasokan listrik dari PLN Batam.
Dukungan tersebut menyusul peristiwa mati listrik total (blackout) yang sempat melumpuhkan aktivitas warga dan iklim usaha di Bintan selama tiga hari dua malam. Kondisi Bintan yang menjadi satu-satunya daerah yang padam total tanpa pasokan listrik cadangan dinilai sangat merugikan, baik dari sektor perekonomian maupun pelayanan publik.
Ketua Kadin Bintan, Hasriawady, menegaskan bahwa ketergantungan energi pada wilayah lain tanpa adanya kemandirian listrik di daerah sendiri merupakan hal yang sangat berisiko bagi kelangsungan ekonomi daerah.
“Peristiwa blackout selama tiga hari dua malam kemarin harus menjadi pelajaran berharga. Bintan tidak bisa terus-menerus bergantung pada suplai energi dari PLN Batam,” ujar Hasriawady.
Ia menambahkan bahwa kepastian dan keandalan pasokan listrik merupakan kunci utama dalam menjaga iklim investasi dan kenyamanan masyarakat. Menurutnya, pemadaman total dalam durasi yang panjang berpotensi merusak iklim bisnis, UMKM, hingga sektor pariwisata yang menjadi andalan Kabupaten Bintan.
“Investor butuh kepastian energi. Jika pasokan listrik sering terganggu atau bahkan mati total hingga berhari-hari, daya saing Bintan akan terpengaruh. Oleh karena itu, hadirnya pembangkit listrik milik Bintan sendiri adalah langkah maju yang sangat tepat dan harus disegerakan demi kemandirian daerah,” tegasnya.
Secara struktur kelistrikan, wilayah Bintan dan Tanjungpinang selama ini berada di bawah naungan PT PLN (Persero) UID Riau dan Kepulauan Riau (UP3 Tanjungpinang) yang sangat bergantung pada pasokan kabel laut dari PT PLN Batam. Ketergantungan pada satu jalur transmisi interkoneksi tersebut terbukti rentan ketika terjadi kendala teknis di pulau tetangga.
Sebenarnya, pada masa lalu Kabupaten Bintan sempat memiliki fasilitas pembangkit listrik mandiri (seperti Pembangkit Listrik Tenaga Diesel / PLTD) untuk memenuhi kebutuhan lokalnya. Namun, seiring dengan beroperasinya jaringan interkoneksi kabel laut yang menyalurkan energi dari Batam, operasional pembangkit-pembangkit lokal tersebut perlahan dihentikan dan dinonaktifkan.
Kondisi inilah yang membuat Bintan kehilangan penyangga daya mandiri ketika jaringan interkoneksi utama mengalami gangguan teknis. Rencana Pemerintah Kabupaten Bintan untuk mendorong hadirnya kembali pembangkit listrik sendiri diharapkan dapat menjadi jawaban jangka panjang, sekaligus menjamin kedaulatan energi bagi masyarakat dan para pelaku usaha di Bumi Senandong Bintan.











Comment